Kitab Suci Agama Hindu WEDA

http://2.bp.blogspot.com/_MfLM4CO0Iik/TBtOjYKT1ZI/AAAAAAAAA6Y/K2RcYVnveiI/s320/quranic_manuscript_-_3_-_hijazi_script.jpgTiap Agama mempunyai kitab suci yg mnjadi sumber keyakinan dan kpercayaan kepada Tuhan,disamping sumber etik dari tingkah laku seseorang.
Agama bukan saja mengajarkn soal hidup sesudah mati,tetapi juga apa yg harus dbuat selama hidup d dunia.Agama mempunyai peraturan-peraturan yg berbentuk susila,dan barang siapa yg mlanggarnya akan mndapat hukuman penderitaan di Dunia dan di Akhirat,sebaliknya barang siapa yg menaati dan mlaksanakan perattran2 agama itu dg sbaik2nya,akan mndapat kebahagian di dunia dan akhirat.
Bagi umad Hindu sumber Agama adalah Weda dan Dharmacastra.Weda a/ wahyu yg d turunkan melalui Maharesi2 lebih dari 4000 tahun yg lalu.
Ajaran Manu yg d tulis oleh Bhagawan Bhrgu dlm Manawa Dharmacastra II. 10. Menyebutkan.
Crutistu Wedo Wijnejo dharma castram tuwai smrih,te sarwartheswam imammsye tabhyam dharmohi nirbabhau.
Artinya:
ssunggunya Cruti(wahyu) itu adalah weda,dmikian pula yg di sebut smrti adalah Dharma Castra,keduanya ini tdx boleh d ragukan dlm hal apapun juga kdrena keduanya adalah kitab suci yg menjadi sumber dari Dharma.
Dalam kaitanya antara Weda dg smrti,weda itu lebih dulu ada dari smrti,jd dg demikia maka Wedalah yg menjadi sumber paling utama dari Agama Hindu.Jelas d sebutkan disini bahwa Weda itu adalah wahyu bukan buatan maharsi atau manusia,dg demikian Agama Hindu bukan agama budaya hasil ciptaan manusia.
Ada beberapa hal yg menonjol dari Weda yg patut d jelaskan supaya jangan menimbulkan salah tafsir bagi orang yg menimbulkan tidax memahaminya yaitu:

dewa,sehingga spintas timbul anggapan bhwa Tuhan itu banyak…
1.Dalam weda kita melihat pula ajaran2 yg tampaknya seperti polytheis,memuja banyak  Padahal Weda adalah monotheisme,tp dlm penghayatan yg agak brbeda dg agama2 monotheis lainya.
Weda adalah agama untuk manusia masa lampau,manusia sekarang dan manusia yg akan datang.Weda adalah sanatana dharma yaitu agama yg abadi dan bisa hidup spanjang jaman.Bentuk polyteisme yg monotheisme dlm weda dpat di lihat dari mantra Tri sandya bait ke 3 yakni:
Om twan ciwah,twam Mahadewa,Iswara,Parameswara,Brahma,Wisnucca,Rudrasca,Purusah parikirtitah
artinya :
Tuhan yg d sebut dg nama Ciwa,Mahadewa,Iswara,Parameswara,Brahma,Wisnu,dan Rudra.Tuhan adalah asal mula dari sgala
yg ada.Demikianlah Tuhan dipuja selalu.
Jd Dewa2 itu walaupun dbayangkan bnyak tapi sbenarnya tidak lebih dari sifat srta fungsi dari Tuhan yg satu(Esa).
Ambil contoh matahari dg sinar2nya,yg d gunakan oleh Umad Hindu sbg kiasan.Matahari yg satu ini mempunyai sinar banyak,para ahli menyebutnya dg sinar ultra merah,sinar ultra violet,dll.Dan stiap sinar ini mempunyai khasiat,ciri,warna dg kegunaan masing.Seolah2 ada sinar banyak yg keluar dari sumber yg banyak pula,tetapi nyatanya semua sinar itu adalah berasal dari matahari yg satu.Matahari yg satu ini mempunyai fungsi banyak,matahari yg satu ini mempunyai sinar yg masing2 mempunyai kekuatan dan kegunaan yg brbeda2.
Itulah sebabnya dalam Agama Hindu kekuatan2 Tuhan Yang Maha Esa itu d sebut Dewa,karena asal katanya “Div”yg artinya sinar..
Mengapa para sarjana memisah2kan dan memberi nama lain sinar2 itu, padahal semua sinar itu adalah sinarnya matahari.?Salahkan kalau sinar2 kekuatan Tuhan d personifikasikan dan di berikan nama2 yg berbeda??

2.Weda mempunyai keluwesan,tidax kaku,namun tidak berubah inti hakekatnya.
Weda di ibaratkan seperti bola karet yg melengket,kemanapun dia d gelindingkan,maka tanah yg d lalui itu melengkdt,membri warna baru pada bola karet itu,namun inti karet itu tdx berubah,demikian pula bentuknya yg bundar,hanya warnanya berubah sesuai dg daerah yg d lalui,kalau lewat d pasir,maka bola karet itu membentuk bola pasir dmikian kalau melewati tanah merah maka akan terjadi bola tanah merah,karena kalau d belah inti bola ini akan tetap sama.

Adapun kata Weda ini berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata "Wid" berkembang menjadi kata WEDA atau WIDYA yang berarti pengetahuan. Sebagai kitab suci kata Weda mengandung pengertian himpunan ilmu pengetahuan suci yang bersumber dari Sang Hyang Widhi Wasa diterima atau didengar oleh para Maha Resi dalam keadaan samadhi. Oleh karena itu disebut juga Sruti yang berarti Sabda suci yang didengar (wahyu). Jadi Weda merupakan himpunan wahyu- wahyu Tuhan.

Rsi yang menerima wahyu Weda jumlahnya sangat banyak, namun yang terkenal hanya tujuh saja yang disebut Saptaresi. Ketujuh Maha Rsi tersebut yakni:

  1. Resi Gritsamada
  2. Resi Wasista
  3. Resi Atri
  4. Resi Wiswamitra
  5. Resi Wamadewa
  6. Resi Bharadwaja
  7. Resi Kanwa
Berikut ini akan saya jelaskan secara singkat mengenai 7 maharsi penerima wahyu tuhan satu persatu:
1.  Resi Gritsamada:
     Åûi Gåtsamada
    Mahàrûi Gåtsamada adalah mahàrûi yang banyak dihubungkan dengan turunnya mantra-mantra   Weda, terutama Ågweda Mandala II. Hanya sayangnya sejarah kehidupan mahàrûi Gåtsamada ini tidak banyak diketahui. Beberapa catatan diketahui bahwa Gåtsamada adalah keturunan dari Sunahotra, keluarga Aògira, Adapula penjelasan lain yang menyatakan bahwa Gåtsamada adalah keturunan Bhågu. Dengan demikian sejarahnya tidak diketahui dengan pasti, sedang di dalam Mahàbhàrata, ia disebutkan keturunan mahàrûi Sanaka. Sunahotra tersebut di atas, dinyatakan sebagai keturunan Bhàradvàja.
2.  Resi Wasista:
     Waúiûþha
     Nama Waúiûþha sering digunakan sebagai nama keluarga kadang kala sebagai nama pribadi. Åûi Waúiûþha banyak dikaitkan denga turunnya mantra-mantra Maóðala VII Ågweda. Salah seorang keturunan Åûi Waúiûþha adalah Åûi Úakti yang juga terkenal sebagai penerima wahyu. Tentang keluarga Waúiûþha ini tidak banyak kita kenal. Di dalam kitab Mahàbhàrata nama Waúiûþha disamakan dengan Wiúwàmitra. Di dalam kitab Matsya Puràóa, dinyatakan bahwa åûi Waúiûþha mengawini Arundhati, saudara perempuan devaåûi Nàrada. Dari perkawinan itu lahir seorang putra bernama Úakti
3. Resi Atri:
    Mahàrûi Atri pada umumnya banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra Maóðala V Ågweda. Sayang sekali kita tidak mengenal banyak tentang mahàrûi ini. Di dalam Matsya Puràóa, nama Atri tidak saja sebagai nama keluarga, tetapi juga sebagai nama pribadi. Dinyatakan bahwa dalam keluarga Atri yang tergolong bràhmaóa dijumpai pula beberapa nama dari keluarga Atri seperti : Úàyaóà, Udalaka, Úona, Sukadewa, Gauragriwa, dan lain-lain. Dalam ceritanya dikemukakan pula informasi bahwa mahàrûi Atri banyak dikaitkan dengan keluarga Aògira. Bila kita baca dengan teliti Ågweda Maóðala V, tampaknya tidak hanya mahàrûi Atri yang menerima wahyu untuk mandala ini, tetapi juga Druwa, Prabhuwaúu, Saývaraóa, Gaurawiti, Putra Úakti, dan lain-lain. Apakah nama-nama ini ada kaitannya dengan mahàrûi Atri, masih perlu dikaji kembali. Dikemukan pula bahwa di antara keluarga Atri, 36 Åûi tergolong penerima wahyu. Jadi cukup banyak dan karena itu kemungkinan nama-nama itu adalah keturunan dari mahàrûi Atri.
4.  Resi Wiswamitra:
     Wiswamitra (Sanskerta: िवश्वामित्र ; Viśvā-mitra) adalah nama salah satu Brahmaresi dalam Agama Hindu yang menerima wahyu Tuhan. Nama Wiswamitra juga muncul dalam kitab Ramayana, bersama dengan Resi Wasista. Namun dalam Ramayana, Resi Wiswamitra berasal dari keturunan kesatria dan dulu merupakan seorang raja.
Wiswamitra merupakan keturunan seorang raja pada zaman India Kuno, dan ia juga dipanggil Kaushika ("keturunan Kusha"). Ia merupakan kesatria yang gagah berani yang merupakan cicit dari raja bernama Kusha. Salah satu dari empat putera Kusha adalah Kushanubha, yang melaksanakan upacara Puthrakameshti dan mendapatkan putera bernama Gadhi sebagai hasilnya. Kaushika, atau Wiswamitra, adalah putera Raja Gadhi. Kaushika menggantikan ayahnya dan memerintah dengan baik. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya.
5.  Resi Wamadewa:
     Åûi Wàmadewa
Wamadewa dihubungkan dengan sloka-sloka dalam Mandala IV didalamsloka-sloka Rg. Weda itu. Hanya sayang riwayat hidup Wamadewa banyakdiketahui. Hampir semua mantra-mantra yang terdapat dimandala IVdikatakan diterin oleh Wamadewa. Hanya dinyatakan salah satu dari padamantra yang terpenting yaitu Gayatri tidak terdapat didalam mandala IVtetapi diletakkan di Mandala III.Didalam cerita dikatakan bahwa Malia Resi Wamadewa telah mencapaipenerangan sempurna sejak masih berada dalam kandungan ibunya.Diceriterakan bahwa semasih dalam kandungan Wamadewa berdialogdengan malaekat Indra dan Aditi. Rupanya ceritera tentang dialog inidihubungkan dengan kedudukan Wamadewa yang telah dianggapmencapai kesucian, sehingga Wamadewa dilahirkan tidak melalui saluranbiasa. Hanya itulah ceritera yang kita peroleh tentang Wamadewa sebagai Maha Resi.
6.  Resi Bharadwaja:
     
Mandala VI tergolong himpunan sloka-sloka yang diturunkan melalui Maha ResiBharadawja. Buku ini memuat 75 sukta.Menurut otensitasnya tampaknya lebih tua dari buku yang ke V, tetapi dalamurutan ditetapkan sesudah buku ke V.Hampir seluruh isi mandala VI ini dikatakan kumpulan dari Bharadwaja, hanyasedikit saja yang diduga turun dari keluarganya, antara lain disebut nama Sahotradan Sarahotra.Nama-nama lainnya seperti Nara, Gargarjiswa, yang merupakan keluarga dariBharadwaja termasuk pula sebagai penerima wahyu. Diceriterakan Bharadwaja adalah putra Brhaspati. Akan tetapi kebenaran tentangcerita ini belum dapat dipastikan, karena disamping nama Bharadwaja terdapatpula nama Samyu yang dianggap sebagai putra Brhaspati, sedangkan hubunganantara Samyu dan Bharadwaja tidak diketahui.
7.  Resi Kanwa:
 
Mahàrûi Kanwa merupakan mahàrûi penerima wahyu dan banyak dikaitkan dengan Maóðala VIII Ågweda. Mandala ini isinya bermacam-macam sùkta. Kanwa adalah nama pribadi dan juga nama keluarga. Maóðala VIII dinyatakan diterima oleh mahàrûi Kàóva atau merupakan wahyu yang diterima oleh keluarga Úakuntala.
Di samping Åûi Kàóva terdapat pula nama-nama åûi lainnya seperti Kaúyapa, putra Marici. Mahàrûi Kàóva mempunyai putra bernama Praskanwa. Nama-nama åûi yang lain yang juga dapat dijumpai dalam Maóðala VIII adalah : Gosukti, Aúwasukti, Puûþigu, Bhågu, Manu, Waiwaswata, Nipatithi, dan sebagainya. Adapun Maóðala IX dan X Ågweda merupakan kumpulan wahyu yang diterima oleh beberapa mahàrûi.
Dari sepuluh maóðala yang ada, Maóðala X merupakan maóðala yang paling lengkap. Maóðala ini memuat pokok-pokok ajaran agama Hindu yang sangat penting dan sangat bermanfaat untuk diketahui. Di samping nama-nama åûi sebagai telah dikemukan di atas, tampaknya penggunaan åûi itu telah cukup merasuk sampai ke Bali.
Dalam mempelajari perkembangan agama Hindu di daerah ini, kita jumpai pula tokoh-tokoh yang juga disebut saptaåûi yang bertanggung jawab terhadap perkembangan agama Hindu. Apakah ini suatu kebetulan atau memang secara konsepsional diprogramkan ? Kini kita warisi adanya Pañcaåûi seperti: Mpu Agnijaya, Mpu Kuturan, Mpu Sumeru, Mpu Gana, dan Mpu Bharadah.
Ayat-ayat yang diturunkan oleh Tuhan kepada para Maha Rsi tersebut tidak terjadi pada suatu zaman yang sama dan tidak diturunkan di wilayah yang sama. Resi yang menerima wahyu juga tidak hidup pada masa yang sama dan tidak berada di wilayah yang sama dengan resi lainnya, sehingga ribuan ayat-ayat tersebut tersebar di seluruh wilayah India dari zaman ke zaman, tidak pada suatu zaman saja. Agar ayat-ayat tersebut dapat dipelajari oleh generasi seterusnya, maka disusunlah ayat-ayat tersebut secara sistematis ke dalam sebuah buku. Usaha penyusunan ayat-ayat tersebut dilakukan oleh Bagawan Byasa atau Krishna Dwaipayana Wyasa dengan dibantu oleh empat muridnya, yaitu: Bagawan Pulaha, Bagawan Jaimini, Bagawan Wesampayana, dan Bagawan Sumantu.





Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda adalah wahyu yang diterima melalui pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.
Bahasa Weda
Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci. Menurut penelitian para ahli, bahwa Wedha telah berumur ribuan tahun dan diwahyukan antara 2500 – 1500 SM.

Tata Bahasa Weda
Bahasa Weda memiliki sebuah bunyi frikatif labial [f], yang disebut upadhmaniya, dan sebuah frikatif velar [x], yang disebut jihwamuliya. Kedua-duanya merupaka alofon daripada wisarga: upadhmaniya muncul sebelum p dan ph, jihwamuliya sebelum k dan kh. Bahasa Weda juga memiliki huruf khusus ळ (aksara Devanagari) untuk l retrofleks, sebuah alofon antara vokal , yang biasa dialihaksarakan sebagai atau ḷh. Dalam membedakan l vokalik daripada l retrofleks, l vokalik kadangkala dialihaksarakan dengan menggunakan tanda diakritis berbentuk lingkaran di bawah huruf, ; apabila hal ini dilaksanakan, r vokalik juga digambarkan dengan sebuah lingkaran, , demi asas konsistensi.
Bahasa Weda merupakan bahasa yang memiliki pitch accent (Indonesia ?). Karena sejumlah kecil kata-kata menurut pelafazan Weda mengandung apa yang disebut swarita mandiri pada sebuah vokal pendek, maka bisa dikatakan bahwa bahasa Weda “mutakhir” adalah sebuah bahasa nada secara marginal. Namun harap diperhatikan bahwa pada versi-versi Rgweda yang telah direkonstruksi secara metrik, hampir semua sukukata yang mengandung swarita harus dikembalikan kepada sebuah sekuensi dua sukukata di mana yang pertama mengandung sebuah anuswāra dan yang kedua mengandung apa yang disebut swarita bebas. Jadi bahasa Weda awal bukanlah sebuah bahasa nada melainkan sebuah bahasa yang menggunakan pitch accent.
Selain itu bahasa Weda memiliki bentuk subjunktivus, yang tidak disebut dalam tatabahasa Panini dan pada umumnya dianggap telah hilang pada saat itu, paling tidak pada konstruksi kalimat umum.
Dasar i-panjang membedakan infleksi Dewi dan infleksi Wrkis, sebuah pembedaan yang sudah hilang pada bahasa Sansekerta Klasik. 

Sifat dan Fungsi Wedha
Sifat Wedha adalah Anadi dan Anantha, sebab Wedha merupakan sabda suci yang diterima melalui para Maha Rsi penerima wahyu. Walaupun usia Wedha sudah tua, namun filsafat yang terkandung di dalamnya masih relevan dengan perkembangan jaman. Sifat Wedha dapat dikategorikan sebagai berikut :
1  1.  Wedha tidak berawal, karena Wedha sebagai sabda suci yang telah ada sebelum alam diciptakan oleh – Nya.

2. Wedha tidak berakhir karena ajaran Wedha berlaku sepanjang jaman. Mengingat Wedha tidak berawal dan berakhir maka disebut Anadi dan Anantha.

3. Wedha berlaku sepanjang jaman artinya dari jaman manusia prasejarah sampai jaman modern dari manusia tingkat kecerdasan tinggi maupun rendah.

4. Wedha disebut Apourucyam, maksudnya Wedha itu tidak disusun oleh manusia melainkan diperoleh atau diterima oleh orang – orang suci atau para Maha Rsi.

5. Wedha mempunyai keluwesan, tidak kaku, tapi tidak memiliki inti, dan hakikatnya Wedha bersifat fleksibel.

Kitab Wedha adalah sumber kebenaran, sehingga dijadikan sumber kepercayaan dan keyakinan bagi umat Hindu. Dengan demikian, Wedha mempunyai fungsi sebagai berikut :

1. Wedha sebagai sumber kebenaran, etika, dan tingkah laku.

2. Wedha sebagai kitab suci Agama Hindu dipergunakan sebagai penuntun umat manusia dalam usaha mencapai hidup suci.

3. Wedha memberikan jaminan terhadap keselamatan makhluk hidup di dunia baik sekarang maupun yang akan datang.

4. Wedha merupakan ajaran kebenaran sehingga sangat diutamakan oleh umat Hindu di dunia.

5. Wedha merupakan keimanan dan keyakinan yang sangat mendasar, dalam usaha membebasakan jiwanya untuk mencapai tujuan akhir, yaitu moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Pembagian dan Isi Weda
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.
Srutistuwedo wijneyo dharmasastram tu wai smerth,te sarrtheswamimamsye tabhyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.1o).
Artinya:
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. 
(Dharma)Weda khilo dharma mulamsmrti sile ca tad widam,acarasca iwa sadhunamatmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Srutir wedah samakhyato
dharmasastram tu wai smrth,
te sarwatheswam imamsye
tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).
Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.
Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha.
Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut:

SRUTI
Sruti adalah kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti adalah Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau himpunan. Oleh karena itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya himpunan). 

Weda Sruti yaitu Weda dalam bentuk himpunan wahyu (Sruti), disebut juga Weda Samhita terdiri dari:
No. Nama Dihimpun oleh Kelompok
1 Rig Weda Maha Resi Pulaha Catur Weda
2 Yajur Weda Maha Resi Waisampayana
3 Sama Weda Maha Resi Jaimini.
4 Atharwa Weda Maha Resi Sumantu.
 
5 Bhagavad-Gita Maha Resi Byasa. Pancamo Weda.

Beikut ini penjelasannya:
Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.
Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.Sama Weda Samhita. Adalah Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi Jaimini.

Yajur Weda Samhita.
Adalah Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda. Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.

Atharwa Weda Samhita
Adalah kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya adalah doa-doa untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu.

Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerah Punjab. Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna.
Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain upacara. Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad.

Aranyaka
berisi tentang penjelasan tentang philosofis /arti dan makna upacara

Upanisad
merupakan kesimpulan dari kitab-kitab Aranyaka,karena itu upanisad disebut Vedanta, Vedanta tidak hanya berarti akhir dari Veda tetapi uga merupakan puncak tertinggi dari dari ajaran Veda. Secara formal disebutkan ada 108 Upanisad namun hanya 12 yg dikatakan penting.
Kitab2 Upanisad memberikan wejangan tentang rahasia teringgi terhadap umat manusia, kitab2 ini merupakan intisari dari kitab-kitab Veda

Bhagawadgita
Bhagawadgita merupakan suatu bagian dari kitab Bhismaparwa, yakni kitab keenam dari seri Astadasaparwa kitab Mahabharata, yang berisi percakapan antara Sri Kresna dengan Arjuna menjelang Bharatayuddha terjadi. Diceritakan bahwa Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan Dinasti Kuru jika Bharatayuddha terjadi. Arjuna juga merasa lemah dan tidak tega untuk membunuh saudara dan kerabatnya sendiri di medan perang. Dilanda oleh pergolakan batin antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama.
Kresna yang memilih menjadi kusir kereta Arjuna menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran ketuhanan dan kewajiban seorang kesatria agar dapat membedakan antara yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagawadgita.
Bhagawadgita terdiri dari delapan belas bab dan berisi ± 650 sloka. Setiap bab menguraikan jawaban-jawaban yang diajukan oleh Arjuna kepada Kresna. Jawaban-jawaban tersebut merupakan wejangan suci sekaligus pokok-pokok ajaran Weda.

SMERTI
Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi.
Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda, seperti tabel dibawah ini:

No. Kitab Isinya Kelompok
1 Siksa ilmu tentang phonetics Wedangga
2 Wyakarana ilmu tata bahasa
3 Chanda pengetahuan tentang lagu
4 Nirukta pengetahuan tentang sinonim dan akronim
5 Jyotisa ilmu astronomi
6 Kalpa tentang ritual
1 Itihasa ceritera- ceritera kepahlawanan (epos) terdiri dari Mahabarata dan Ramayana Upaweda
2 Purana himpunan ceritera- ceritera (mirip sejarah) tentang peristiwa- peristiwa tertentu dan tentang tradisi.
3 Arthasastra pengetahuan tentang pemerintahan.
4 Ayurweda ilmu obat- obatan.
5 Gandarwa Weda ilmu tentang seni
6 Sarasamuçcaya dan Slokantara tentang etika dan tata susila.
 
Berikut ini penjelasan selengkapnya:

Kelompok Wedangga:
Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:
(1). Siksa (Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.

(2). Wyakarana (Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar

(3). Chanda (Lagu)
Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.

(4). Nirukta
Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.

(5). Jyotisa (Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.

(6). Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih lanjut, bagian Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur

Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

(1). Itihasa
Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.

Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan  keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata "Iti", "ha" dan "asa" artinya adalah "sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya") maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa ,Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.

Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.

(2). Purana
Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.

(3) Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.

(4) Ayur Weda
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan, ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu mujizat dan ilmu jiwa remaja.

Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam
pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.

(5) Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu, karena tiapsatu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.



2 Responses to "Kitab Suci Agama Hindu WEDA"

  1. It's not my first time to pay a visit this website, i
    am visiting this web site dailly and get nice facts from here all the time.


    Check out my weblog - last minute holidays deals uk

    BalasHapus

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?