Nawa Dewata Sanga

Nawa Dewata Sanga

Dewata Nawa Sanga, 9 Dewa Peguasa Mata Angin
1. Definisi
Dewata Nawasanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa.
2. Penjelasan Tentang Atribut Dewata Nawasanga
a. Dewa Wisnu
Arah : Utara/Uttara
Pura : Batur
Aksara : Ang
Senjata : Cakra
Warna : Hitam
Urip : 4
Panca Wara : Wage
Sapta Wara : Soma
Sakti : Dewi Sri
Wahana : Garuda
Fungsi : Pemelihara
b. Dewa Sambhu
Arah : Timur Laut/Airsanya
Pura : Besakih
Aksara : Wang
Senjata : Trisula
Warna : Biru/Abu-Abu
Urip : 6
Panca Wara :
Sapta Wara : Sukra
Sakti : Dewi Mahadewi
Wahana : Wilmana
c. Dewa Iswara
Arah : Timur/Purwa
Pura : Lempuyang
Aksara : Sang
Senjata : Bajra
Warna : Putih
Urip : 5
Panca Wara : Umanis
Sapta Wara : Redite
Sakti : Dewi Uma
Wahana : Gajah Putih
d. Dewa Maheswara
Arah : Tenggara/Ghnenya
Pura : Goa Lawah
Aksara : Nang
Senjata : Dupa
Warna : Dadu/Merah Muda
Urip : 8
Panca Wara :
Sapta Wara : Wrhaspati
Sakti : Dewi Laksmi
Wahana : Merak
e. Dewa Brahma
Arah : Selatan/Daksina
Pura : Andakasa
Aksara : Bang
Senjata : Gada
Warna : Merah
Urip : 9
Panca Wara : Paing
Sapta Wara : Saniscara
Sakti : Dewi Saraswati
Wahana : Angsa
Fungsi : Pencipta
f. Dewa Rudra
Arah : Barat Daya/Nairiti
Pura : Uluwatu
Aksara : Mang
Senjata : Moksala
Warna : Jingga
Urip : 3
Panca Wara :
Sapta Wara : Anggara
Sakti : Dewi Samadhi
Wahana : Kerbau Putih
g. Dewa Mahadewa
Arah : Barat/Pascima
Pura : Batukaru
Aksara : Tang
Senjata : Naga Pasa
Warna : Kuning
Urip : 7
Panca Wara : Pon
Sapta Wara : Buda
Sakti : Dewi Sanci
Wahana : Naga
h. Dewa Sangkara
Arah : Barat Laut/Wayabhya
Pura : Puncak Mangu
Aksara : Sing
Senjata : Angkus
Warna : Hijau/Welis
Urip : 1
Panca Wara :
Sapta Wara : Sukra
Sakti : Dewi Rodri
Wahana : Singa
i. Dewa Siwa
Arah : Tengah/Madya
Pura : Besakih
Aksara : Ing/Yang
Senjata : Padma
Warna : Panca Warna
Urip : 8
Panca Wara : Kliwon
Sapta Wara :
Sakti : Dewi Durga
Wahana : Lembu
Fungsi : Pelebur
3. Penjelasan Tentang Pura
a. Pura Batur terletak di Kabupaten Bangli
b. Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem
c. Pura Lempuyang di Kabupaten Karangasem
d. Pura Goa Lawah terletak di Kabupaten Klungkung
e. Pura Andakasa terletak di Kabupaten Karangasem
f. Pura Uluwatu terletak di Kabupaten Badung
g. Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan
h. Pura Puncak Mangu terletak di Kabupaten Badung























. PEMBAHASAN
3.1. Deskripsi Konsep Warna Dalam Dewata Nawa Sanga
Dewata Nawa Sanga digambarkan dengan menggunakan simbol yang berhubungan satu dengan yang lainnya , yang terdiri dari :
1. 1. Gambar dalam bentuk simbol Deva
2. 2. Gambar dalam bentuk senjata
3. 3. Gambar dalam bentuk simbol organ dalam ( jejeron ) manusia
4. 4. Gambar dalam bentuk warna
5. 5. Gambar dalam bentuk simbol lingkungan
Secara rinci dapat dilihat dalam tabel berikut :
No Arah Mata Angin Nama Dewa Senjata Simbol organ
( jeroan ) Warna Simbol
lingkungan
1 Utara Wisnu Cakra Empedu Hitam Air
2 Selatan Brahma Gada Hati Merah Api
3 Timur Iswara Bajra Jantung Putih Angin
4 Barat Mahadewa Nagapasah Dubur Kuning Kabut
5 Barat laut Sangkara Angkus Limpa Hijau Mendung
6 Timur laut Sambu Trisula Jaringan Biru Awan tebal
7 Tenggara Mahesora Dupa Paru Dadu Rambu (awan tipis)
8 Barat daya Rudra Moksala Usus Jingga Halilintar
9 Tengah Ciwa Padma Kerongkongan Panca
Warna Topan
Mengingat konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga berhubungan dengan filsafat dimana hal-hal yang berhubungan dengan budaya serta filsafat sulit sekali untuk menjelaskan maknanya melalui pemberian definisi , maka sesuai dengan teknik analisis data yang disampaikan dalam pendahuluan, pembahasan, analisis konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga akan menggunakan pendekatan Metabahasa Semantik Alami dengan menggabungkannya dengan analisis kolokial ( colloquial analysis) dari David Cooper, dimana pemberian makna terhadap sesuatu menggunakan makna kolokialnya
Berdasarkan hal tersebut di atas maka deskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah sebagai berikut :
1. Warna Hitam
X adalah hitam =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah utara
c) Ada Dewa Wisnu berkuasa disana
d) Dewa Wisnu membawa senjata Cakra
e) Jika menggunakan jeroan maka empedulah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang air
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 2. Warna Putih
X adalah putih =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah timur
c) Ada Dewa Iswara berkuasa disana
d) Dewa Iswara membawa senjata Bajra
e) Jika menggunakan jeroan maka jantunglah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 3. Warna Merah
X adalah merah =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah selatan
c) Ada Dewa Brahma berkuasa disana
d) Dewa Brahma membawa senjata Gada
e) Jika menggunakan jeroan maka hatilah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang api
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 4. Warna Kuning
X adalah kuning =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah barat
c) Ada Dewa Mahadewa berkuasa disana
d) Dewa Mahadewa membawa senjata Nagasapah
e) Jika menggunakan jeroan maka duburlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang kabut
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 5. Warna Hijau
X adalah hijau =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah barat laut
c) Ada Dewa Sangkara berkuasa disana
d) Dewa Sangkara membawa senjata Angkus
e) Jika menggunakan jeroan maka limpalah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang mendung
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 6. Warna Biru
X adalah biru =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah timur laut
c) Ada Dewa Sambu berkuasa disana
d) Dewa Sambu membawa senjata Trisula
e) Jika menggunakan jeroan maka jaringanlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang angin
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 7. Warna Dadu
X adalah dadu =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah tenggara
c) Ada Dewa Mahesora berkuasa disana
d) Dewa Wisnu membawa senjata Dupa
e) Jika menggunakan jeroan maka parulah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang awan yang tipis
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 8. Warna Jingga
X adalah jingga =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan disebelah barat daya
c) Ada Dewa Rudra berkuasa disana
d) Dewa Rudra membawa senjata Moksala
e) Jika menggunakan jeroan maka ususlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang halilintar
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
1. 9. Warna Brumbun / Panca Warna ( warna campuran antara putih + hitam + merah + kuning
X adalah brumbun =
a) pada saat itu ada upacara agama Hindu
b) X berada / ditempatkan ditengah-tengah
c) Ada Dewa Ciwa berkuasa disana
d) Dewa Ciwa membawa senjata Padma
e) Jika menggunakan jeroan maka kerongkonganlah yang dipakai
f) Ketika orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang topan
g) Karena itulah ketika orang- orang berpikir tentang X mereka berpikir tentang hal tersebut diatas
Berdasarkan deskripsi warna diatas, dapatl dikatakan bahwa secara filosofis konsep warna paling berhubungan dengan arah mata angin. Hal ini didukung oleh beberapa data tambahan yang diambil dari 2 sumber yaitu
A. Geguritan Gunatama
Dalam geguritan Gunatama diceritakan bahwa I Guna Tama pergi kepada pamannya Ki Dukuh untuk meminta ilmu pengetahuan di Gunung Kusuma . Hal pertama yang oleh Ki Dukuh perintahkan kepada I Gunatama adalah agar ia belajar berkonsentrasi melalui pemahaman terhadap warna bunga. Hal itu dapat dilihat pada geguritan berikut :
Bunga petak maring purwa,
kembang jingga gnewan sami,
sekar abang ring daksina,
ring pascima kembang jenar, mapupul maring wayabia,
Bunga ireng ring utara,
ersania birune sami,
mancawarnane ring madia,
punika tandur ring kayun, apang urip dadi mekar,
to uningin, patute anggon padapa.
Geguritan tersebut berarti :
“ Bunga putih ditimur, bunga jingga gnewan semua, bunga merah di selatan, yang di barat bunga kuning, berkumpul di barat laut. Bunga hitam di utara, timur laut semuanya biru, panca warna di tengah, itulah ditanam di hati, supaya hidup berkembang, ketahuilah itu, kebenaran dipakai selimut “
1. B. Kidung Aji Kembang yang dilagukan dalam upacara Ngaben ( Ngereka )
1) Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara Dewatannya.
Ring papusuh prehania, alinggih sira kalihan, panteste
kembange petak.Ri tembe lamun numadi suka sugih
tur rahayu dana punya stiti bakti
2) Ring geneyan tunjunge dadu, Mahesora Dewatannya
Ring peparu prenahira. Alinggih sira kalihan, Pantesta
kembange dadu, Ri tembe lamun dumadi
widagda sire ring niti, subageng sireng bhuwana
3) Ring daksina tunjunge merah, Sang Hyang Brahma Dewatannya
Ring hati prenahira. Alinggih sira kalihan
Pantesta kemabng merah. Ring tembe lamun dumadi
Sampurna tur dirga yusa. Pradnyan maring tatwa aji
4) Ring Nriti tunjunge jingga. Sang Hyang Rudra Dewatannya
Ring usus prenahira,Alinggih sira kalihan. Pantes
te kembange jingga, Ring tembe lamun numadi,
Dharma sira tur susiila. Jana nuraga ring bhumi
5) Ring Pascima tunjunge jenar, Mahadewa Dewatannya
Ring ungsilan prenahira, Alinggih sire kalihan, Pantesta
kemabnge jenar, Ring tembe lamun dumadi,
Tur Sira Cura ring rana, prajurit, watek angaji
6) Ring wayabya tunjunge wilis, Hyang Sangkara Dewatannya
Ring lima pranahira, alinggih sira kalihan. Pantesta
kembang wilis. Ring tembe lamun dumadi, Teleb
tapa brata, gorawa satya ring bhudi
7) Ring utara tunjungeireng. Sang Hyang Wisnu Dewatannya
Ring ampu prenahira,Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange ireng, Ring tembe lamun numadi,
Suudira suci laksana, surupa lan sadu jati
8) Ring airsanya tunjunge biru . Sang Hyang Sambu Dewatannya
Ring ineban prenahira,Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange biru , Ring tembe lamun numadi,
Pari purna santa Dharma, sidha sidhi sihing warga
9) Tengah tunjunge mancawarna . Sang Hyang CiwaDewatannya
Tumpukung hati prenahira,Alinggih sira kalihan.
Panteste kembange mancawarna , Ring tembe lamun numadi,
Geng prabhawa sulaksana, satya bratha tapa samadi
Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari masing-masing geguritan di atas sama dengan diskripsi warna dalam Dewata Nawa Sanga, tambahan yang diberikan adalah adanya akibat dari penggunaan tunjung (teratai) dengan sembilan warna tersebut adalah sebagai berikut :
¨ penggunaan tunjung warna putih akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
¨ penggunaan tunjung warna dadu akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
¨ penggunaan tunjung warna merah akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang kaya raya, dermawan dan sejahtera
¨ penggunaan tunjung warna biru akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sempurna , dan pintar (berilmu pengetahuan)
¨ penggunaan tunjung warna jingga akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang sabar serta menjalankan Dharma, susila,
¨ penggunaan tunjung warna hijau akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yangberani bertarung di medan laga, sebagai prajuurit sejati dengan watak yang sangat baik ( berpendidikan )
¨ penggunaan tunjung warna kuning akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang tekun mengerjakan tapa , brata, dan mempunyai budi yang luhur
¨ penggunaan tunjung warna hitam akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang berkelakuan baik, suci laksananya, tampan dan dan senantiasa menimbulkan kedamaian
¨ penggunaan tunjung panca warna akan menyebabkan kelahiran berikutnya (reinkarnasi) menjadi manusia yang keseluruhan hidupnya diliputi oleh kebaikan, disayangi oleh setiap orang
Disamping hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dari 8 warna dasar yang diberikan oleh Berlin dan Kay, dalam Agama Hindu terutama dalam Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam ; warna dadu yang berada di tenggara ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning.
3. Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga ( Agama Hindu )
Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini :
1. Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Menurut makna MSA berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : heightàgreatness, massà generousity, source of living, gelap, ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkisma, kesedihan, suram, gawat (kesan buruk) dan (kesan baik) berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesderhanaan India ; pemelihara kehidupan, limitless, immortal
2. Makna warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan, sedangkan menurut MSA berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan
3. Makna warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih dari MSA berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, ß kekeuatan angin
4. Makna warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, sedangkan MSA berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah end of journey, passive, (bad image) ; cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, (good image) ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana, penyatuan unsur udara + air dan tanah à evolutive process:
5. Makna warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan dalam MSA berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan, kurir (messenger ), prophet:
6. Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani. Dalam MSA biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, senser, assosiated with the idea of birth and rebirth, sorga, langit, bangsawan, melankolis, jujur, cinta, setia, kebenaran, distincttion, excellence, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan à banjir à kesedihan:
7. Makna warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria. Menurut MSA, warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin
8. Makna warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga menurut MSA merupkan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, the concept of circulation, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, active force, supreme creative power, illumination, penyerahan, dan pengorbanan.
9. Makna warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini menurut MSA adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah, sedangkan makna universalnya adalah : moving from : multiplicityà unity, space à spacelessness, time à timelessness, a mean toward contemplation and concentration, kesucian, victory, denote the interco-munication between inferior and the supreme, 5 = health, love , controller, violent, evil power
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa Konsep warna dalam agama Hindu khsusnya dalam Dewata Nawa Sanga merupakan suatu konsep yang diciptakan berdasarkan simbol dan arah mata angin. Hal ini merupakan suatu yang sangat alami mengingat dalam agama Hindu terdapat banyak simbol yang dipergunakan Simbol-simbol tersebut merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang dianggap sebagai sesuatu yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Hal ini didukung oleh pendapat Anne Wierbicka ( 1996 ) yang menyatakan bahwa konsep warna bisa diciptakan pada setiap kelompok masyarakat secara berbeda – beda seperti halnya konsep televisi, komputer dan sebagainya. Oleh karena itu dalam bahasa Inggris dan juga dalam bahasa – bahasa lain di dunia, istilah warna dianggap sebagai sesuatu yang secara wajar mengandung domain semantik pada ‘dirinya’. Hal lainnya yang mempengaruhi konsep warna dalam Dewata Nawa Sanga adalah adanya keuniversalan yang menggunakan lingkungan sebagai kerangka referensi yang fundamental
Penggunaan simbol yang merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan warna, tektur, bentuk, fungsi, dan atribut lainnya yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan menimbulkan makna konotatif, asosiatif dan kolokatif pada warna yang ada di dalam Agama Hindhu.
4. SIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Makna warna dalam Dewata Nawa Sanga secara khusus dan dalam Agama Hindu secara umum memiliki konotasi yang sangat kuat dengan arah mata angin. Disamping makna konotatif tersebut, makna warna dalam Agama Hindhu banyak mengacu pada simbol-simbol seperti simbol senjata , simbol organ dalam tubuh, serta simbol lingkungan. Oleh karena itulah makna warna dalam Dewata Nawa Sanga memiliki makna konotatif, asosiatif,khusus, dan kolokatif.
1. Ada perbedaan makna warna yang terdapat dalam Dewata Nawa Sanga dan makna warna yang diuraikan dengan menggunakan analisis Metabahasa Semantik Alami oleh Anne Wierbicka ( 1996). Hal ini karena warna dalam Dewata Nawa sanga memiliki makna khusus sesuai dengan filsafat Agama Hindhu. Namun meskipun demikian dengan melalui analisis makna yang lebih detail, ditemukan bahwa sebenarnya makna warna yang ada pada masyarakat didunia ini adalah sama diantara kekhususan yang ada.
2. Universal karena filsafat , religious berdasarkan filasafat Timur yang lebih dulu ada dibandingkan filsafat Barat. Oleh karena itu jelas filsafat Barat berorientasi pada filsafat Timur. Konsep warna merupakan konsep yang ada juga pada filsafat Timur, sehingga analisis dari konsep warna ditinjau dari filsafat Barat ( ilmu pengetahuan ) merupakan konsep yang universal . Filsafat Timur kurang berkembang karena tentang agama sedangkan filsafat Barat yang berkembang karena tentang ilmu pengetahuan.
















DEWATA NAWA SANGA


ERSANYA / TIMUR LAUT
Urip : 6;
Dewa : Sambu;
Sakti : Maha Dewi;
Senjata : Trisula;
Warna : Biru;
Aksara : Wa;
Bhuwana Alit : Ineban;
Tunggangannya : Wilmana;
Bhuta : Pelung;
Tastra : Pa dan Ja;
Sabda : Mang mang;
Wuku : Kulantir,Kuningan,Medangkungan,Kelawu;
Caturwara : Sri;
Sadwara : Urukung;
Saptawara : Sukra;
Astawara : Sri;
Sangawara : Tulus;
Dasawara : Sri;
Banten : Dewata-dewati, Sesayut Telik Jati, Tirta Sunia Merta;
Mantra : Ong trisula yantu namo tasme nara yawe namo namah, ersanya desa raksa baya kala raja astra, jayeng satru, Ong kalo byo namah.


PURWA / TIMUR
Urip : 5;
Dewa : Iswara;
Sakti : Uma Dewi;
Senjata : Bajra;
Warna : Putih;
Aksara : Sa (Sadhya);
Bhuwana Alit : Pepusuh;
Tunggangannya : Gajah;
Bhuta : Jangkitan;
Tastra : A dan Na;
Sabda : Ngong ngong;
Wuku : Taulu, Langkir, Matal, Dukut;
Dwiwara : Menga;
Pancawara : Umanis;
Sadwara : Aryang;
Saptawara : Redite;
Astawara : Indra;
Sangawara : Dangu;
Dasawara : Pandita;
Banten : Penyeneng, Sesayut Puja Kerti;
Mantra : Ong bajra yantuname tasme tikna rayawe namo namah purwa desa, raksana ya kala rajastra sarwa, satya kala byoh namah namo swaha.

GENYA / TENGGARA
Urip : 8;
Dewa : Mahesora;
Sakti : Laksmi Dewa;
Senjata : Dupa;
Warna : Dadu/Merah Muda;
Aksara : Na;
Bhuwana Alit ; Peparu;
Tunggangannya : Macan;
Bhuta : Dadu;
Tastra : Ca dan Ra;
Sabda : Bang bang;
Wuku : Uye, Gumbreg, Medangsia, Watugunung;
Caturwara : Mandala;
Sadwara : Paniron;
Saptawara : Wraspati;
Astawara : Guru;
Sangawara : Jangu;
Dasawara : Raja;
Banten : Canang, sesayut Sida Karya, Tirta Pemarisuda;
Mantra : Ong dupa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, genian dasa raksa raksa baya kala rajastra, jayeng satru kala byoh namo namah.


DAKSINA / SELATAN
Urip : 9;
Dewa : Brahma;
Sakti: Saraswati Dewi;
Senjata : Gada / Danda;
Warna : Merah;
Aksara : Ba;
Bhuwana Alit : Hati;
Tunggangannya : Angsa;
Bhuta : Langkir;
Tastra : Ka dan Da;
Sabda : Ang ang;
Wuku : Wariga, Pujut, Menail;
Triwara : Pasah;
Pancawara : Paing;
Sadwara : Was;
Saptawara : Saniscara;
Astawara : Yama;
Sangawara : Gigis;
Dasawara : Desa;
Banten : Daksina, Sesayut Candra Geni, Tirta Kamandalu;
Mantra : Ong danda yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, daksina desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru, Ong kala byoh nama swaha.

NORITYA / BARAT DAYA
Urip : 3;
Dewa : Rudra;
Sakti : Santani Dewi;
Senjata : Moksala;
Warna : Jingga;
Aksara : Ma;
Bhuwana Alit : Usus;
Tunggangannya : Kebo;
Bhuta : Jingga;
Tastra : Ta Dan Sa;
Sabda : Ngi ngi;
Wuku : Warigadian, Pahang, Prangbakat;
Caturwara : Laba;
Sadwara : Maulu;
Saptawara : Anggara;
Astawara : Ludra;
Sangawara : Nohan;
Dasawara : Manusa
Banten : Dengen dengen, Sesayut Sida Lungguh, Tirta Merta Kala, Tempa pada Usus;
Mantra : Ong moksala yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, noritya desanya raksa baya kala rajastra, jayeng satru Ong kala byoh nama swaha.

PASCIMA / BARAT
Urip : 7;
Dewa : Mahadewa;
Sakti : Saci Dewi;
Senjata : Nagapasa;
Warna : Kuning;
Aksara : Ta;
Bhuwana Alit : Ungsilan;
Tunggangannya : Naga;
Bhuta : Lembu Kanya;
Tastra : Wa dan La;
Sabda : Ring ring;
Wuku : Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala;
Triwara : Kajeng;
Pancawara : Pon;
Sadwara : Tungleh;
Saptawara : Buda;
Astawara : Brahma;
Sangawara : Ogan;
Dasawara : Pati;
Banten : Danan, Sesayut tirta merta sari, Tirta Kundalini;
Mantra : Ong Naga pasa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo, pascima desa raksa bala kala rajastra, jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.


WAYABYA / BARAT LAUT
Urip : 1;
Dewa : Sangkara;
Sakti : Rodri Dewi;
Senjata : Angkus /Duaja;
Warna : Wilis / Hijau;
Aksara : Si;
Bhuwana Alit : Limpa;
Tunggangannya : Singa;
Bhuta : Gadang/Hijau;
Tastra : Ma dan Ga;
Sabda : Eng eng;
Wuku : Landep, Sungsang, Merakih, Ugu;
Ekawara : Luang;
Caturwara : Jaya;
Astawara : Kala;
Sangawara : Erangan;
Dasawara : Raksasa;
Banten : Caru, Sesayut candi kesuma, Tirta Mahaning;
Mantra : Ong duaja yantu namo tiksena nara yawe namo, waybya desa raksa baya kala rajastra, jayeng satru, Ong kalo byoh namo namah swaha.

UTTARA / UTARA
Urip : 4;
Dewa : Wisnu;
Sakti : Sri Dewi;
Senjata : Cakra;
Warna : Ireng / Hitam;
Aksara : A;
Bhuwana Alit : Ampru;
Tunggangannya : Garuda;
Bhuta : Taruna;
Tastra : Ba dan Nga;
Sabda : Ung;
Wuku : Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang;
Dwiwara : Pepet;
Triwara : Beteng;
Pancawara : Wage;
Saptawara : Soma;
Astawara : Uma;
Sangawara : Urungan;
Dasawara : Duka;
Banten : Peras, Sesayut ratu agung ring nyali, Tirta Pawitra;
Mantra : Ong cakra yantu namo tasme tiksena ra yawe namo namah utara desa raksa baya, kala raja astra jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha.

MADYA / TENGAH
Urip : 8;
Dewa : Siwa;
Sakti : Uma Dewi (Parwati);
Senjata : Padma;
Warna : Panca Warna;
Aksara : I (Isana) dan Ya;
Bhuwana Alit : Tumpuking Hati;
Tunggangannya : Lembu;
Bhuta : Tiga Sakti;
Tastra : Ya dan Nya;
Sabda : Ong;
Saptawara : Kliwon;
Sangawara : Dadi;
Banten : Suci, Sesayut Darmawika, Tirta Siwa Merta, Sunia Merta, Maha Merta;
Mantra : Ong padma yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, madya desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru kala byoh namo swaha.


























Bagian-bagian Nawa Dewata
Arah Utara
Timur Laut
Timur
Tenggara
Selatan
Barat Daya
Barat
Barat Laut
Tengah

Dewa Wisnu
Sambhu
Iswara
Maheswara
Brahma
Rudra
Mahadewa
Sangkara
Siwa

Shakti Sri
Mahadewi
Uma
Lakshmi
Saraswati
Samodhi
Sachi
Rodri
Durga

Senjata Chakra
Trisula
Bajra
Dupa
Gada
Moksala
Nagapasa
Angkus
Padma

Wahana Garuda
Wilmana
Gajah
Macan
Angsa
Kerbau
Naga
Singa
Lembu

Warna Hitam
Biru
Putih
Dadu
Merah
Jingga
Kuning
Hijau
Pancawarna
Bhuta Taruna Pelung Jangkitan Dadu Langkir Jingga Lembu Kanya Gadang Tiga Sakti
Aksara A Wa Sa Na Ba Ma Ta Si I / Ya
Urip 4 6 5 8 9 3 7 1 8
Triwara Beteng - Kajeng - Pasah - - - -
Caturwara - Sri Laba Jaya Menala - - - -
Pancawara Wage - Umanis - Pahing - Pon - Kliwon
Sadwara - Aryang Urukung Paniron Was Maulu Tungleh - -
Saptawara Soma Sukra Redite Wraspati Saniscara Anggara Buddha - -
Astawara Uma Sri Indra Guru Yama Rudra Brahma Kala -
Sangawara Urungan Tulus Dadi Dangu Jangur Gigis Nohan Ogan Erangan
Wuku Ukir, Dungulan,
Tambir, Wayang Kulantir, Kuningan,
Medangkungan, Kulawu Tolu, Langkir,
Matal, Dukut Gumbreg, Medangsia,
Uye, Watugunung Wariga, Pujut,
Menail Warigadian, Pahang,
Prangbakat Sinta, Julungwangi,
Krulut, Bala Landep, Sungsang,
Merakih, Ugu -
Sasih Kasa Karo, Katiga Kapat Kalima, Kanem Kapitu Kaulu, Kasanga Kedasa Jyesta, Sadha -
Bhuwana
Alit Ampru Ineban Pepusuh Peparu Hati Usus Ungsilan Limpa Tumpuking
hati
Prosedur Pemasangan infus          :

Intruksi pemasangan infuse dari Dokter tercatat lengkap dan

Jelas pada rekam medik atau secara lisan pada keadaan darurat bila ada kurang dimenggerti segera tanyakan pada Dokter yangmemberi intruksi.

2.  Persiapan :

Meja/trolly serupa meja suntik tersedia diatasnya: IV catheter yang akan digunakan.IV catheter cadangan atau wing needle.Transfusion set/infusion set terbungkus steril, kapas alkohol 70%,Bethadine, kasa steril, plester/hypafik, spalk, larutan infuse yang akan diberikan.
Standar infuse.
Pencahayaan yang baik.
Tutup ruang pasien agar pelaksana dapat lebih konsentrasi
Beritahukan kepada pasien tentang pemasangan infuse dan tenangkan pasien.
Persiapkan cairan yang akan diberikan dengan menusukan bagian tajam infusion set kedalam botol larutan infuse. Buka saluran hingga cairan infuse memenuhi seluruh selang tanpa menyisakan udara dalam selang infuse.

3.  Lakukan pemasangan infuse.

Tentukan lokasi pemasangan ,sesuaikan dengan keperluan rencana pengobatan, punggung tangan kanan/kiri,kaki kanan/kiri,1 hari/2 hari. Contoh pasien struma IV line dikaki kiri/kanan, Tomor mamae IV Line ditangan sisi berlawanan pasien shock :2 line atau vena sectie, pasien stroke pada sisi yang tidak lumpuh

Ligasi bagian proximal dari lokasi vena yang akan ditusuk           menggunakan ligator khusus.
Lakukan tindakanaseptik dan antiseptik.
Lencangkan kulit dengan memegang tangan/kaki dengan tangan kiri,siapkan IV catheter ditangan kanan.
Tusukkan jarum sedistal mungkin dari pembulu vena dengan lubang jarum menghadap keatas, sudut tusukan 30-40 derajat arah jarum sejajar arah vena, lalu dorong.
Bila jarum masuk kedalam pembuluh vena,darah akan tampak masuk kedalam bagian reservoor jarum . hentikan dorongan.
Pisahkan bagian jarum dari bagian kanul dengan memutar bagian jarum sedikit .Lanjutkan mendorong kanul kedalam vena secara perlahan sambil diputar sampai seluruh kanul masuk.
Cabut bagian jarum seluruhnya perhatikan apakah darah keluar dari kanul . tahan bagian kanul dengan ibu jari kiri.
Hubungkan kanul dengan infusan / tranfusion set .buka saluran                                 infuse perhatikan apakah tetesan lancar.perhatikan apakah lokasi penusukan membengkak,menandakan elestravasasi cairan sehingga penusukan harus diulang dari awal.
Bila tetesan lancar,tak ada ekstravasasi lakukan fiksasi dengan  plester /hypafix dan pada bayi/balita diperkuat dengan spalk ,
kompres dengan kasa betadhin pada lokasi penusukan.
Atur tetesan infuse sesuai intruksi.
Laksanakan proses administrasi ,lengkapi berita acara pemberian infuse ,catat jumlah cairan masuk dan keluar,catat balance cairan selama 24 jam setiap harinya,catat dalam perincian harian ruangan.

4.Bila sudah tidak diperlukan lagi,pemasangan infuse di stop, IV Catheter dapat dilepas dengan cara:

Tutup saluran infuse.
Lepaskan plester dengan bantuan bensin.
Tindihkan kapas alkohol pada lokasi tusukan, cabut kanul IV catheter .
Kapas difiksasi dengan plester.
Seluruh alat infuse dibuang pada tempat sampah medis.

Menghitung Tetesan Infus

Sebagai seorang praktisi gizi kita kadang dihadapkan untuk menghitung jumlah zat gizi pada pasien yang sedang diinfus. Menentukan jumlah tetesan infus dalam tiap menit kepada klien akan dapat membantu kita mengetahui berapa jumlah zat gizi yang dikandungnya. Untuk mengerti dan memahami bagaimana menghitung jumlah tetesan infus , bisa anda pelajari kasus dibawah ini.

Contoh kasus
Dokter meresepkan kebutuhan cairan Nacl 0,9 % pada Tn A 1000 ml/12 jam. faktor drips (tetes) 15 tetes/1 ml. berapa tetes per menit cairan tersebut diberikan?

Strategi menjawab kasus
1. Ketahui jumlah cairan yang akan diberikan
2. konversi jam ke menit (1 jam = 60 menit)
3. masukkan kedalam rumus (Jumlah cairan yang dibutuhkan dikali dengan faktor drips, lalu dibagi dengan lamanya pemberian)

Jadi jawabannya adalah (1000 x 15)/(12 x 60) = 15.000/720 = 20.86 dibulatkan jadi 21
Cairan tersebut harus diberikan 21 tetes/menit.

Dengan mengetahui jumlah tetesan yang pada akhirnya kita akan tahu berapa ml cairan yang masuk ke pasien maka kita akan dapat mengetahui berapa zat gizi yang telah / akan diterima pasien dalam kurun waktu tertentu dengan cara membaca komposisi zat yang ada dalam cairan tersebut biasanya ada pada label kemasannya.

Terkadang kita agak kesulitan dalam menghitung tetesan infus yang akan kita berikan kepada seorang pasien, berikut tips2 nya

RUMUS
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro

contoh soal :
1. infus 500 cc diberikan kepada seorang pasien 20 tetes makro/ menit habis dalam berapa jam? jika dalam micro?
jawab : 1 cc = 20 tetes makro –> berarti pasien diberikan 1 cc/ menit
infus yang tersedia 500 cc –> = akan habis dalam 500 dibagi 60 menit = 8,333 jam
kalo dalam micro tinggal di kali 3 aja. jadinya = 24,99 jam.
2. berapa tetes macro per menit tetesan 500 cc infus RL harus diberikan agar habis dalam 4 jam?
jawab : 500 cc dibagi 4 jam = 125 cc –> ini jumlah cc RL yang harus diberikan per jamnya
125 cc dibagi 60 = 2,083 cc / menit. ini jumlah cc RL yang harus diberikan per menitnya.
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro jadi 2,083 cc = (2,083 x 20) 41,66 tetes makro = (2,083 x 60) 124,98 tetes mikro.

Penyakit dbd


Definisi
Demam dengue adalah demam virus akut yang disertai sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang, penurunan jumlah sel darah putih dan ruam-ruam.
Demam berdarah dengue/dengue hemorrhagic fever (DHF) adalah demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan.
Pada keadaan yang parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan pasien jatuh dalam syok hipovolemik akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut dengue shock syndrome (DSS).

Penyebab
Demam dengue dan DHF disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus yang berbeda antigen.
Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan serotipenya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehingga seseorang yang hidup di daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4 kali seumur hidupnya.
Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari.
Faktor resiko penting pada DHF adalah serotipe virus, dan faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan predisposisi genetis.

Gejala
Infeksi oleh virus dengue menimbulkan variasi gejala mulai sindroma virus nonspesifik sampai perdarahan yang fatal.
Gejala demam dengue tergantung pada umur penderita.
Pada bayi dan anak-anak kecil biasanya berupa demam disertai ruam-ruam makulopapular.
Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa dimulai dengan demam ringan atau demam tinggi (>39 derajat c) yang tiba-tiba dan berlangsung selama 2 - 7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri sendi dan otot, mual-muntah dan ruam-ruam.
Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang kadang disertai bintik-bintik perdarahan di farings dan konjungtiva.
Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk kanan dan nyeri seluruh perut.
Kadang-kadang demam mencapai 40 - 41 derajat c dan terjadi kejang demam pada bayi.
DHF adalah komplikasi serius dengue yang dapat mengancam jiwa penderitanya, ditandai oleh :
• demam tinggi yang terjadi tiba-tiba
• manifestasi perdarahan
• hepatomegali/pembesaran hati
• kadang-kadang terjadi syok manifestasi perdarahan pada dhf dimulai dari tes torniquet positif dan bintik-bintik perdarahan di kulit (ptechiae). Ptechiae ini bisa terlihat di seluruh anggota gerak, ketiak, wajah dan gusi. juga bisa terjadi perdarahan hidung, perdarahan gusi, perdarahan dari saluran cerna dan perdarahan dalam urin.
Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokkan menjadi 4 tingkatan :
• Derajat I : demam diikuti gejala tidak spesifik. satu-satunya manifestasi perdarahan adalah tes torniquet yang positif atau mudah memar.
• Derajat II : gejala yang ada pada tingkat I ditambah dengan perdarahan spontan. perdarahan bisa terjadi di kulit atau di tempat lain.
• Derajat III : kegagalan sirkulasi ditandai oleh denyut nadi yang cepat dan lemah, hipotensi, suhu tubuh yang rendah, kulit lembab dan penderita gelisah.
• Derajat IV : syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diperiksa. fase kritis pada penyakit ini terjadi pada akhir masa demam.
Setelah demam selama 2 - 7 hari, penurunan suhu biasanya disertai dengan tanda-tanda gangguan sirkulasi darah. penderita berkeringat, gelisah, tangan dan kakinya dingin, dan mengalami perubahan tekanan darah dan denyut nadi.
Pada kasus yang tidak terlalu berat gejala-gejala ini hampir tidak terlihat, menandakan kebocoran plasma yang ringan.
Bila kehilangan plasma hebat, akan terjadi syok, syok berat dan kematian bila tidak segera ditangani. Kondisi yang buruk bisa segera ditangani dengan diagnosa dini dan pemberian cairan pengganti. Trombositopeni dan hemokonsentrasi sudah dapat dideteksi sebelum demam turun dan terjadi syok.
Pada penderita dengan DSS kondisinya dengan segera memburuk. Ditandai dengan nadi cepat dan lemah, tekanan darah menyempit sampai kurang dari 20 mmhg atau terjadi hipotensi. Kulit dingin, lembab dan penderita mula-mula terlihat mengantuk kemudian gelisah.
Bila tidak segera ditangani penderita akan meninggal dalam 12 - 24 jam. Dengan pemberian cairan pengganti, kondisi penderita akan segera membaik.
Pada syok yang berat sekalipun, penderita akan membaik dalam 2 -3 hari. Tanda-tanda adanya perbaikan adalah jumlah urine yang cukup dan kembalinya nafsu makan.
Syok yang tidak dapat diatasi biasanya berhubungan dengan keadaan yang lain seperti asidosis metabolik, perdarahan hebat di saluran cerna atau organ lain. Perdarahan yang terjadi di otak akan menyebabkan penderita kejang dan jatuh dalam keadaan koma.

Pengobatan
untuk mengatasi demam sebaiknya diberikan asetaminofen. salisilat tidak digunakan karena akan memicu perdarahan dan asidosis.
asetaminofen diberikan selama demam masih mencapai 39 derajat c, paling banyak 6 dosis dalam 24 jam.
kadang-kadang diperlukan obat penenang pada anak-anak yang sangat gelisah. kegelisahan ini bisa terjadi karena dehidrasi atau gangguan fungsi hati.
haus dan dehidrasi merupakan akibat dari demam tinggi, tidak adanya nafsu makan dan muntah.
Untuk mengganti cairan yang hilang harus diberikan cairan yang cukup melalui mulut atau melalui vena. Cairan yang diminum sebaiknya mengandung elektrolit seperti oralit. cairan yang lain yang bisa juga diberikan adalah jus buah-buahan.
penderita harus segera dirawat bila ditemukan gejala-gejala berikut :
• takikardi, denyut jantung meningkat
• kulit pucat dan dingin
• denyut nadi melemah
• terjadi perubahan derajat kesadaran, penderita terlihat ngantuk atau tertidur terus menerus
• urine sangat sedikit
• peningkatan konsentrasi hematokrit secara tiba-tiba
• tekanan darah menyempit sampai kurang dari 20 mmhg
• hipotensi.
pada tanda-tanda tersebut berarti penderita mengalami dehidrasi yang signifikan (>10% berat badan normal), sehingga diperlukan penggantian cairan segera secara intravena.
cairan pengganti yang diberikan biasanya garam fisiologis, ringer laktat atau ringer asetat, larutan garam fisiologis dan glukosa 5%, plasma dan plasma substitute.
pemberian cairan pengganti harus diawasi selama 24 - 48 jam, dan dihentikan setelah penderita terrehidrasi, biasanya ditandai dengan jumlah urine yang cukup, denyut nadi yang kuat dan perbaikan tekanan darah..
infus juga harus diberikan kalau kadar hematokrit turun sampai 40% .
bila pemberian cairan intravena diteruskan setelah tanda-tanda ini dicapai, akan terjadi overhidrasi, mengakibatkan jumlah cairan berlebih dalam pembuluh darah, edema paru-paru dan gagal jantung.
oksigen diberikan pada penderita dalam keadaan syok.
transfusi darah hanya diberikan pada penderita dengan tanda-tanda perdarahan yang signifikan.

Pencegahan
pengembangan vaksin untuk dengue sangat sulit karena keempat jenis serotipe virus bisa mengakibatkan penyakit.
perlindungan terhadap satu atau dua jenis serotipe ternyata meningkatkan resiko terjadinya penyakit yang serius
saat ini sedang dicoba dikembangkan vaksin terhadap keempat serotipe sekaligus.
sampai sekarang satu-satunya usaha pencegahan atau pengendalian dengue dan dhf adalah dengan memerangi nyamuk yang mengakibatkan penularan.
a. aegypti berkembang biak terutama di tempat-tempat buatan manusia, seperti wadah plastik, ban mobil bekas dan tempat-tempat lain yang menampung air hujan.
nyamuk ini menggigit pada siang hari, beristirahat di dalam rumah dan meletakkan telurnya pada tempat-tempat air bersih tergenang.
pencegahan dilakukan dengan langkah 3m :
1. menguras bak air
2. menutup tempat-tempat yang mungkin menjadi tempat berkembang biak nyamuk
3. mengubur barang-barang bekas yang bisa menampung air.
di tempat penampungan air seperti bak mandi diberikan insektisida yang membunuh larva nyamuk seperti abate.
hal ini bisa mencegah perkembangbiakan nyamuk selama beberapa minggu, tapi pemberiannya harus diulang setiap beberapa waktu tertentu.
di tempat yang sudah terjangkit dhf dilakukan penyemprotan insektisida secara fogging.
tapi efeknya hanya bersifat sesaat dan sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai.
di samping itu partikel obat ini tidak dapat masuk ke dalam rumah tempat ditemukannya nyamuk dewasa.
untuk perlindungan yang lebih intensif, orang-orang yang tidur di siang hari sebaiknya menggunakan kelambu, memasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, menggunakan semprotan nyamuk di dalam rumah dan obat-obat nyamuk yang dioleskan.

Ron Jeremy Is Dracula brought to you by PornHub

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?