MEMAHAMI KONTINUM SEHAT SAKIT MENJELASKAN PENINGKATAN KESEHATAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT

Selamat malam teman, Rahajeng Wengi pengunjung blog bayuajuzt.blogspot.com. Salam dari saya Bayu. Pada malam ini saya akan coba berikan info tentang "MEMAHAMI KONTINUM SEHAT SAKIT, YAITU TENTANG PENINGKATAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT". Mungkin untuk teman-teman ku di SMK KES. bisa gunakan materi dibawah ini. langsung ajah deh COpas Materinya.

Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit merupakan dua konsep yang berhubungan erat dan pada pelaksanaannya ada beberapa hal yang menjadi saling tumpangtindih satu sama lain.

A. PENGERTIAN
1. Peningkatan kesehatan merupakan upaya memelihara atau memperbaiki tingkat kesehatan klien saat ini.
    Peningkatan kesehatan
A     Health promotion
1)        Perbaikan dan peningkatan gizi ibu dan anak
2)        Perbaikan dan pemeliharaan kesehatan perseorangan
3)        Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan
4)        Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
5)        Olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
6)        Kesempatan memperoleh hiburan
7)        Nasihat perkawinan dan pendidikan sek yang bertanggungjawab
B       General and specific protection
1)        Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah terhadap penyakit-penyakit tertentu.
2)        Isolasi terhadap penderita penyakit menular
3)        Perlindungan terhadap kemungkinan kecelakaan di tempat-tempat umum dan tempat kerja
4)        Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat kasinogenik, racun, alergan.
5)        Pengendalian sumber-sumber pencemaran

C        Early diagnosis and prompt treatment
1)        Case finding
2)        Melakukan pemeriksaan kesehatan umum secara rutin
3)        Pengawasan selektif terhadap penyakit tertentu seperti kusta, TBC.
4)        Case holding
5)        Contact person
6)        Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus
D       Dissabilty limitation
1)        Penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan lanjutan agar terarah dan tidak menimbulkan komplikasi
2)        Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan
3)        Perbaiakan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan perawatan yang lebih intensif
2.3.5        Rehabilitation
1)        Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat
2)        Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberikan dukungan moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan.
3)        Mengusahakan perkampungan rahabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat mampu mengembangkan diri
4)        Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia sembuh dari suatu penyakit.

2. Pencegahan Penyakit merupakan upaya yang bertujuan untuk melindungi klien dari ancaman kesehatan yang bersifat aktual maupun potensial.
B. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
1. Persamaannya
- Keduanya berorientasi pada masa depan.
2. Perbedaan
Terletak pada Motivasi dan Tujuan
- Peningkatan Kesehatan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bertindak secara positif , untuk mencapai tujuan berupa tingkat kesehatan yang stabil
- Pencegahan Penyakit memberi motivasi kepada masyarakat untuk menghindari penurunan tingkat kesehatan atau fungsi
C. FOKUS KEGIATAN
1. Kegiatan Peningkatan Kesehatan dapat bersifat Aktif maupun Pasif :
a. Peningkatan Kesehatan Pasif
Merupakan strategi peningkatan kesehatan dimana individu akan memperoleh manfaat dari kegiatan yang dilakukan oleh orang lain tanpa harus melakukannya sendiri, Misal
- Pemberian florida pada pusat suplai Air Minum (PAM)
- Portifikasi (Pembetengan) pada susu dengan vitamin D.
b. Peningkatan Kesehatan Aktif
Pada strategi ini, setiap individu diberikan motivasi untuk melakukan program kesehatan tertentu.Misal:
- Program Penurunan BB,
- Program pemberantasan rokok, menuntut keikutsertaan klien secara aktif.
2. Sedangkan Pencegahan Penyakit terdiri dari beberapa tingkatan all:
a. Pencegahan Primer
- Merupakan pencegahan yang dilakukan sebelum terjadi penyakit dan gangguanfungsi, dan diberikan kepada klien yang sehat secara fisik dan mental.
- Tidak bersifat terapeutik, tidak menggunakan tindakan yang terapeutik, dan tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit
- Terdiri dari :
o Peningkatan Kesehatan : pendidikan kesehatan, standarisasi nutrisi, perhatian terhadap perkembangan kepribadian, penyediaan perumahan sehat, skrining genetik. Dll
o Perlindungan Khusus : imunisasi, kebersihan pribadi (PHBS), sanitasilingkungan, perlindungan tempat kerja, perlindungan kecelakaan, perlindungankarsinoge dan alergen.
b. Pencegahan Sekunder
- Merupakan tindakan pencegahan yang berfokus pada individu yang mengalamimasalah kesehatan atau penyakit, dan individu yang berisiko mengalamikomplikasi atau kondisi yang lebih buruk.
- Pencegahan sekunder dilakukan melalui pembuatan diagnosa dan pemberianintervensi yang tepat sehingga akan mengurangi keparahan kondisi danmemungkinkan klien kembali pada kondisi kesehatan yang normal sedinimungkin.
- Pencegahan komplikasi sebagian besar dilakukan di RS atau tempat pelayanankesehatan lain yang memiliki fasilitas memadai.
- Pencegahan skunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatan penyakit padatahap dini untuk membatasi kecacatan dengan cara menghindarkan ataumenunda akibat yang ditimbulkan dari perkembangan penyakit.
c. Pencegahan Tersier
- Pencegahan ini dilakukan ketika terjadi kecacatan atau ketidakmampuan yang permanen dan atau tidak dapat disembuhkan.
- Pencegahan ini terdiri dari cara meminimalkan akibat penyakit atauketidakmampuan melalui intervensi yang bertujuan untuk mencegahkomplikasi dan penurunan kesehatan
- Kegiatannya lebih ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada pembuatan diagnosa dan tindakan penyakit.
- Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu klien mencapai tingkat fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang ada akibat penyakit atau kecacatan.
- Tingkat perawatan ini bisa disebut juga perawatan preventive, karenadidalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap kerusakan atau penurunanfungsi lebih jauh. Misal: dalam merawat orang yang Buta, disampingmemaksimalkan kemampuan klien dalam aktivitas sehari-hari, juga mencegahterjadinya kecelakaan pada klien. 

Untuk anda bisa lebih memahami materi KONTIMUN SEHAT SAKIT Silakan di baca disini:

KONSEP SEHAT SAKIT


A.    Definisi sehat sakit
Sehat dalam arti luas adalah suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk mempertahankan keadaan kesehatannya.

Perawat dapat memiliki definisi yang berbeda-beda tentang kesehatan, mereka membuat rencana perawatan berdassarkn pada definisi sehat dan standar pelayanan kesehatan yang diterapkan
Beberapa definisi sehat:
1.      Perkins (1939), sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan beberapa factor yang berusaha mempengaruhinya
2.      WHO (1974), sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari aspek fisik, mental, soaial dan tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
3.      Neuman (1989) sakit sebagai totalitas dari seluruh proses kehidupan, termasuk memandang sakit sebuah proses
4.      UU NO.23, 1992, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan hidup produktif secara social dan ekonomi

5.      Perkins (1937), sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari baik aktivitas jasmani, rohani dan social
6.      WHO (1974), sakit adalah suatu keadaan yang tidak seimbang/sempurna seseorang dari aspek medis, fisik, mental, sosial, psikologis dan bukan hanya mengalami kesakitan tetapi juga kecacatan
7.      Raverlyy (1940an), sakit adalah tidak adanya keselarasan antara lingkungan, agen dan individu
8.       UU NO.23, 1992,sakit adalah jika seseorang menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk angin, pilek tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia dianggap tidak sakit.

B.     Model sehat sakit
1.      Kontinum sehat sakit atau rentang sehat sakit
Neuman (1990) “sehat dalam suatu rentang adalah tingkat sejahtera klien pada waktu tertentu, yang terdapat dalam rentang dari kondisi sejahtera yang optimal, dengn energy yang paling maksimum, sampai kondisi kematian, yang menandakan habisnya energy total”

Menurut model kontinum sehat sakit, sehat adalah sebuah keadaan yang dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan dan spiritual yang sehat.

 Sakit adalah sebuah proses dimana fungsi individu mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.

Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relative, yang mempunyai beberapa tingkat, maka akan lebih akurat bila ditentukan sesui dengan titik tertentu pada skala kontimum sehat sakit:
Rentang sehat                                                                  renatang sakit
           
           
 Sjahtera          sht skali           sht normal       stengah skit     sakit     skit kronis        mati

Ket gambar:
Rentang sakit dapat digambarkan mulai setengah sakit, sakit, sakit kronis dan berakhir dengan kematian, sedangkan rentang sehat dapat digambarkan mulai dari sehat normal, sehat sekali dan sejahtera sebagai status sehat yang paling tinggi.
Berdasarkan rentang sehat sakit tersebut, maka paradigma keperwatan dalam konsep sehat sakit, memandang bahwa bentuk pelayanan keperawatan yang akan biberikan selama rentang sehat sakit, akan melihat terlebih dahulu status kesehatan dalam rentang sehat sakit tersebut, apakah statusnya dalam keadaan sakit atau sakit kronis sehingga dapat diketahui tingkatan asuhan keperawatan yang akan diberikan serta tujuan yang ingin dicapai untuk meningkatkan status kesehatannya.
2.      Model kesejahteraan tingkat tinggi
Model kesejahteraan tingkat tinggi berorientasi pada cara memaksimalkan potensi sehat pada setiap individu utuk mampu mempertahankan rentang keseimbangan dan arah yang memiliki tujuan tertentu dalam lingkungan.

Model ini mencakup kemajuan tingkat fungsi ke arah yang lebih tinggi, yang menjadi suatu tantangan yang luas dimana individu mampu hidup dengan potensi yang paling maksimal, merupakan suatu proses yang dinamis, bukan suatu keadaan yang statis dan pasif.

3.      Model agen-penjamu-lingkungan
Menurut pendekatan ini, tingkat sehat sakit individu atau kelompok ditentukan oleh hubungan yang dinamis antara ketiga variable agen, pejamu dan lingkungan.

Agen: factor internal atau eksternal yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit
Ex: seseorang terkena penyakit typoid, dimana agen adalah bakteri
Pejamu: seseorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap  penyakit atau sakit tertentu.ex: riwayat keluarga, usia, gaya hidup
Lingkungan: seluruh factor yang ada diluar pejamu. Lingkungan fisik antara lain tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal. Lingkungan soaial terdiri dari interaksi seseorang dengan orang lain, termasuk stress, konflik dengan orang lain, kesulitan ekonomi, krisis hidup, kematian pasangan.

4.      Model keyakinan kesehatan
Menyatakan hubungan antara keyakinan seseorang dengan perilaku yang ditampilkannya.

komponen pertama adalah persepsi individu tentang kerentangan dirinya terhadap suatu penyakit, ex: klien perlu mengenal adany penyakit diabetes militus melalui riwayat keluarganya, terutama jika dalam empat decade ada keluarga yang meninggal karena penyakit tersebut, maka klien munngkin akan merasakan risiko mengalami penyakit diabetes militus. Komponen kedua adalah persepsi indiividu terhadap keseriusan  penyakit tertentu, dipengaruhi oleh variable demaografi dan sosiopsikologis, perasaan terancam oleh penyakit dan tanda-tanda untuk bertindak, komponen ketiga dimana seseorang akan mengambil tindakan preventif, missal mengubah gaya hidup.
Model keyakinan kesehatan menbantu perawat memahami berbagai factor yang dapat mempengaruhi persepsi, keyakinan, perilaku klien serta membantu perawat membuat rencana paling efektif untuk membantu klien memelihara atau memperoleh kembali status kesehatannya dan mencegah terjadinya penyakit.

5.      Model peningkatan kesejahteraan
“Peningkatan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan tingkat kesehatan klien” (Pender 1993, 1996). Model tersebut mengidentifikasi beberapa factor (demografi dan sosial) yang dapat meningkatkan atau menurunkan partisipasi untuk meningkatkan kesehatan. Model tersebut juga mengatur berbagai tanda kedalam sebuah pola untuk menjelaskan kemungkinan munculnya partisipasi klien dalam perilaku peningkatan kesehatan (Pender, 1993, 1996)

C.     Variable yang mempengaruhi keyakinan dan praktik kesehatan
Variable internal dan eksternal dapat  mempengaruhi bagaimana individu berfikir dan bertindak, pemahaman cara bagaimana variable ini mempengaruhi klien memungkinkan perawat merencanakan dan memberikan perawatan individual.
1.      Variable internal
1.1  tahap perkembangan, contoh: secara umum seoarang anak belum mampu mengenal potensi penyakit serius dan mereka perlu diberikan motivasi untuk berpartisipasi dalam rencana pengobatan
1.2  latar belakang intelektual
1.3  persepsi tentang fungsi, cara seseorang merasakan fungsi fisik akan berakibat pada keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Contoh, seseorang dengan kondisi jantung yang kronik akan merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesehatan yang berarti.
1.4  faktor emosional, seseorang yang tidak mampu melakukan koping scara emosional terhadap ancamman penyakitnya, mungkin akan menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya dan tidak mau menjalani pengobatan. Contoh, seseorang dengan nafas yang terengah-engah dan sering batuk mungkina akan menyalahkan cuaca dingin jika ia secara emosional tidak dapat  menerima kemungkinan menderita penyakit saluran pernafasan.
1.5  Faktor spiritual
Kesehatan dipandang oleh beberapa orang sebagai suatu kemampuan untuk menjalani kehidupan secara utuh.
Pelaksanaan perintah agama merupakan suatu cara seseorang berlatih secara spiritual. Ada beberapa agama yang melarang penggunaan bentuk tindakan pengobatan tertentu, perawat harus memahami dimensi spiritual klien sehingga mereka dapat dilibatkan secara aktif dalam asuhan keperawatan.
2.      Variable eksternal
1.1  prakti dikeluarga
cara bagaimana keluarga klien menggunakan pelayanan kesehatan biasanya akan mempengaruhi cara klien dalam melaksanakan kesehatan. Contoh, seorang anak yang diajak orang tuannya  untuk memeriksakan kesehatan rutin, kemungkinan besar ketika mereka dewasa juga akan membawa anaknya untuk melakukan pemeriksaan yang sama.


1.2  Faktor sosioekonomik
Factor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereraksi terhadap penyakit. Contoh, jika masyarakat menerima perilaku dari sekelompok gadis remaja tertentu yang mempunyai kebiasaan  merokok, maka dorongan untuk menerima kebiasaan tersebut lebih besar daripada perhatian tentang bahaya merokok.
1.3  Latar belakang budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan individu. Budaya juga mempengaruhi tempat masuk ke dalam system pelayanan kesehatan dan mempengaruhi cara melaksanakan kesehatan pribadi. Contoh, sebuah studi tentang pendidikan kesehatan yang dilakukan pada penduduk Amerika keturunan Afrika sebagian besar tidak mempunyai akses untuk mendapatkan pendidikan kesehatan yang dapat digunakan sebagai cara pencegahan primer (Airhihenbuwa, 1989).

Oleh karena itu perawat  harus menyadari pola dan budaya yang berhubungan dengan perilaku dan bahasa yang digunakan oleh diri sendiri maupun orang lain, maka mereka akan mampu mengenal, memahami perilaku dan keyakinan klien. Perawat harus mengidentifikasi dan memasukkan factor budaya  kedalam rencana perawatan klien untuk menghindari terjadinya konflik antara tujuan dan metode perawatan dengan latar belakang budaya klien   

D.    Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit,
Preventif:
-          Primer
Pencegahan yang sebenarnya, pencegahan ini dilakukan sebelum terjadi penyakit dan gangguan fungsi, dan diberikan kepada klien yang sehat secara fisik dan mental, tidak menggunakan tindakan terapetik dan tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit (Edelman dan Mandle, 1994). Contoh, program pendidikan kesehatan, imunisasi, penyediaan nutrisi yang baik, kesegaran fisik


-          Sekunder
Pencegahan sekunder berfokus pada individu yang mengalami masalah kesehatan atau penyakit. Dan individu yang beresiko mengalami komplikasi atau penyakit yang labih buruk. Dengan cara pembuatan diagnose dan pemberian intervensi yang tepat untuk menghindari kondisi yang lebih parah dan memungkinkan klien kembali pada kondisi kesehatan yang normal (Pender, 1993; Edelman dan Mandle, 1994).
Sebagian besar dilakukan dirumah, rumah sakit atau fasilitas yang memadai. Pencegahan sekunder terdiri dari teknik screening dan pengobatan penyakit pada tahap dini untuk membatasi kecacatan.
-          Tersier
Pencegahan tersier dilakukan ketika terjadi kecacatan atau ketidakmampuan yang permanaen dan tidak dapat disembuhkan. Pencegahan tersier terdiri dari cara meminimalkan akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi yang bertujuan untuk mencegah komplikasi dan penurunan kondisi kesehatan (Edelman dan Mandle, 1994).
Tingkat perawatan ini disebut perawatan preventif  karena didalamnya mencakup tindakan pencegahan terjadinya ketidakmampuan atau penurunan fungsi yang lebih jauh. Contoh, pemberian perawatan tersier pada klien yang telah mengalami kebutaan, tidak hanya membantu klien untuk beradaptasi dengan kecacatannya, tapi juga ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah dimasa yang akan dating (ex: terjadinya kecelakaan dirumah, dalam pengasuhan anaknya)
E.     Factor resiko,
1.      Factor genetic dan fisiologis
Factor resiko fisiologis mencakup funngsi tubuh secara fisik.seperti  kelebihan berat badan dan tempat yang dapat meningkatkan stress pada sisitem fisik. (Cotoh, system sirkulasi) dapat meningkatkan kerentanan seseoranng terhadap penyakit pada area ini.

Factor genetic, keturunan terhadap penyakit tertentu. Seseorang dengan riwayat keluarga yang menderita penyakit diabetes militus akan berisiko untuk mengalami penyakit tersebut dikemudian hari.

2.      Usia
Usia dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tertentu. Contoh, resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler meningkat sesuai dengan peningkatan usia untuk kedua jenis kelamin, resiko terjadinya kecacatan saat lahir dan komplikasi kehamilan meningkat pada wanita yang melahirkan setelah usia 35 tahun 
3.      Lingkungan
Lingkungan fisik tempat dimana seseorang bekerja atau tinggal juga dapat meninngkatkan terjadinya penyakit tertentu. Contoh, beberapa jenis kanker dan penyakit lainnya mempunyai kemungkinan yang lebih besar terjadi pada pekerja didaerah industri yang terpajan dengan zat kimia tertentu;  polusi udara,air dan suara juga dapat menimbulkan penyakit
4.      Gaya hidup
Banyak kegiatan, kebiasaan dan cara pelaksanaan kesehatan yang mengandung factor resiko. Contoh, makan yang berlebihan, nutrisi yang buruk, kurang tidur dan  istrahat, kebiasaan merokok dll

F.      Sakit dan perilaku sakit
Sakit bukan hanya keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit, tapi suatu keadaan dimana funngsi fisik, emosional,, intelektual, sosial, perkembangan seseorang terganggu bila dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Kanker merupakan sebuah proses penyakit, tetapi klien dengan leukemia yang sedang menjalani pengobatan mungkin akan mampu berfungsi seperti biasa, sedang klien dengan kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk operasi mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain selain dimensi fisik.

Seseorang yang sedang sakit pada umumnya mempunyai perilaku yang menurut istilah sosiologi kedokteran disebut perilaku sakit. Perilaku sakit mencakup cara seseorang memantau tubuhnya, mendefinisikan dan menginterprestasikan gejala yang dialaminya, melakukan upaya penyembuhan dan menggunakan system pelayanan kesehatan (Mechanic, 1982)
Selain itu perilaku sakit juga dapat terjadi pada klien yang mengalami kehilangan peran, harapan sosial atau tanggung jawab. Contoh, ibu rumah tangga yang sedang terkena flu mungkin harus berhenti sementara dari tanggung jawabnya menjaga anak dan mengurus rumah.
1.      Variabel yang mempengaruhi sakit
1)      Variabel internal
Tetgantung pada persepsi terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami,
jika klien merasa gejala sakit tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari maka mereka cenderung mencari bantuan kesehatan dibandingkan bila klien tidak memandang gejala tersebut menjadi gangguan baginya. Contoh, tukang kayu yang menderita sakit punggung, jika klien yakin bahwa gejala tersebut adalah hal yang serius dan mengancam kehidupannya, maka klien tersebut akan segera mencari bantuan kesehatan.contoh 2, seseorang yang terbangun dari tidurnya ditengah malam karena nyeri dada, umumnya memandang peristiwa ini sebagai suatu gejala yang berpotensi serius sebagai sakit yang mengancam kehidupan dan mungkin ia akan termotivasi untuk mancari bantuan, akan tetapi persepsi seperti itu dapat juga mempunyai akibat yang sebaliknya. Individu mungkin akan merasa takut mengalami sakit yang serius, bereaksi dengan cara menyangkal dan tidak mau mencari bantuann kesehatan
2)      Variable eksternal
Variable eksternal yang mempengaruhi perilaku sakit antara lain:
gejala yang dapat dilihat, suatu penyakit dapat berpengaruh terhadap citra tubuh dan perilaku sakit contoh, seseorang yang mengalami bibir pecah-pecah akn lebih cepat mencari solusi daripada seseorang yang terkena sakit tenggorok, karena mungkin orang lain akan member komentar terhadap gejala pecah-pecah yang terlihat. 

Kelompok sosial,klien akan membantu mereka untun menngenali ancaman penyakit atau memberi dukungan kepada klien untuk menyangkal potensi terjadinya suatu penyakit. Conth, dua orang wanita usia 35 tahun yang berasal dari dua kelompok sosial yang berbeda telah menemukan adanya benjolan pada payudara ketika mereka sedang memeriksa payudara sndiri, kemudian keduanya mendiskusikan kepada teman mereka massing-masing, teman pertama munngkin akan mendoronng untuk mencari penngobatan untuk menentukan apakah perlu dilakukan biopsy, sedang teman yang kedua mungkin akan mengatakan kepadanya bahwa benjolan tersebut hanya merupakan bentuk dari penyakit fibrosistik sehingga ia tidak perlu ke dokter untuk segera memeriksakan diri. 

Latar belakang budaya dan etnik mengajarkan seorang individu bagaimana menjadi sehat, mengenal penyakit dan menjadi sakit. Pemberian arti sehat dan sakit berhubungan dengan nilai budaya dasar yang digunakan oleh seseorang untuk mendefinisikan spengalaman persepsi yang diterimanya (Spector, 1991), oleh karena itu perawat perlu memahami latar belakang budaya yang dimiliki klien agar bias mengembangkan terapi yang individual.

Akses klien kedalam system pelayanan kesehatan sangat erat hubungannya dengan pengaruh factor ekonomi, sisitem layanan kesehatan merupakan suatu system sosioekonomi dimana klien harus masuk, berinteraksi dengannya dan kemudian keluar dari system tersebut.
Seringkali klien merasakan bahwa pusat pelayanan kesehatan yang besar kurang menghargai mereka, dan pelayanan yang diberikan besifat seperti mesin satu arah, dan tenaga kesehatan selalu memcari hal yang paling buruk, tetapi ada beberapa klien yang mungkin hanya mau mencari pelayanan dari tempat pelayanan kesehatan yang besar karena mereka percaya bahwa diagnose dan prosedur yang dilakukan lebih akurat. 
2.      Tahap perilaku sakit
a.  tahap gejala
merupakan tahap awal seseorang mengalami proses sakit dengan ditandai adanyan perasaan tidak nyaman terhadap dirinya, seperti rasa nyeri, panas dll sebagai manifestasi terjadinya ketidak seimbangan dalam tubuh.


b.      tahap asumsi terhadap sakit
tahap seseorang melakukan interprestasi terhadap sakitnya, kemudian berespon dalam bentuk emosi terhadap gejala tersebut, seperti merasakan ketakutan /kecemasan – konsultasi dengan orang yang dianggap lebih tau/ yankes.
c.         tahap kontak dengan palayanan kesehatan
tahap dimana seseorang telah mengadakan hubungan dengan yankes, meminta nasuhat dari profesi kesehatan seperti dokter, perawat yang dilakukan atas inisiatif sendiri, untuk mencari pembenaran tentang sakitnya. Jika ternyata tidak lagi ditemukan gejala yang ada, maka klien mengaggap dirinya sembuh, namun bila gejala tersebut muncul kembali, maka dirinya akan datang ke yankes kembali.
d.        tahap ketergantungan
tahap dimana seseorang dianggap mengalami suatu penyakit yang akan mendapat bantuan pengobatan juga kondisi seseorang sudah mulai tergantung, tetapi tidak semua orang mempunyai tingkat katergantungan yang sama, melainkan berbeda berdasarkan tingkat kebutuhannya juga penyakitnya. Tahapan ini dapat dilakukan dengan pengkajian kebutuhan terhadap ketergantungan dan diberi support agar agar seseorang mengalami kemandirian.
e.         tahap penyembuhan
merupakan tahap akhir menuju proses kembalinya kemampuan untuk beradaptasi kembali dengan lilngkungan atau dari sakit-sehat, persiapan untuk berfungsi dalam kehidupan social. Peran tenkes disini adalah membantu klien untuk meningkatkan kemandirian serta memberikan harapan dan kehidupan menuju kesejahteraans

G.    Dampak sakit pada klien dan keluarga
1.      Perubahan perilaku dan emosi
Setiap orang mempunyai perilaku yang berbeda-beda terhadap kondisi sakit, tergantung pada penyakit dan sikap klien dalam menghadapi penyakit tersebut. Contoh, penyakit dengan jangka waktu singkat dan tidak mengancam kehidupan akan menimbulkan sedikit perubahan dan perilaku dalam fungsii klien atau keluarga. Contoh, seorang suami yang mengalami sakit demam, ia akan mengalami penurunan tenaga tau kesabaran, dan mungkin menjadi lebih mudah marah, memilih untuk tidak berinteraksi dengan yang lain. Penyakit yang berat, yang mengancam kehidupan, dapat  menimbulkan perubahan emosi yang lebih luas, seperti ansietas, syok, penolakan, marah, dan menatrik diri. Hal tersebut merupakan respon umum terhadap stress yang disbabkan oleh sakit. Perawat mengembangkan berbagai intervensi untuk membantu klien dan keluarga membentuk koping terhadap stress, karena stressor umumnya tidak dapat diubah lagi.   

2.      Dampak sakit pada peraan keluarga
Setiap orang mempunyai berbagai peran dalam kehidupannya, seperti pencari nafkah, pengambil keputusan, contoh seorang ibu dengan dua orang anak yang sedang mengalami inveksi virus, dan sudah menderita sakit selama satu minggu, maka selama waktu tersebut ia tidak bisa merawat anak-anaknya dan bekerja mengurus rumah tangganya. Pada awalnya dia mau melepaskan tanggung jawabnya tersebur agar dia mampu merawat dirinya sendiri, setelah berangsur-anngsur sembuh ia akan kembali melakukan peran-perannya tersebut. Dengan perubahan peran jangka pendek seorang klien tidak akan mengalami tahap penyesuaian yang berkapanjangan. Tetapi pada perubahan jangka panjang klien akan memerlukan proses penyesuaian yang sama dengan proses berduka.
 
3.      Dampak pada citra tubuh
Merupakan konsep subyektif seseoranng terhadap penampilan fisiknya. Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan pada penampilan fisiknya, serta klien dan keluarga kan bereaksi yang berbeda-beda. Reaksi klien dan keluarga terhadap gambaran tubuh tergantung pada antara lain: jenis perubahan (kehilangan anggota badan), kapasitas adaptasi, kecepatan perubahan, dukungan yang tersedia
Contoh, misal akibat amputasi kaki, maka umumnya klien akan mengalami tahap berikut:syok, manarik diri, mengakui, menerima dan rehabilitasi

4.      Dampak pada konsep diri
 Konsep diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri, mencakup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahan pada seluruh aspek kepribadiannya. Konsepnya  ini tidak hanya tergantung pada gambaran tubuh dan peran yang dimiliki tetapi juga bergantung pada aspek psikologis juga spiritual diri. Akibat sakit terhadap konsep diri klien dan anggota keluarga mungkin dapat bersifat  kompleks dan kurang bisa diobservasi  bila dibandingkan dengan perubahan peran. Klien yang mengalami perubahan konsep diri karena kondisi sakitnya mungkin tidak lagi mampu memenuhi harapan keluarganya, yang akhirnya akan menimbulkan konflik atau ketegangan.
Contoh, klien tidak lagi terlibat dalam proses pengambilan keputusan dikeluarga atau tidak akan mampu memberi dukungan emosi pada anggota keluarga yang lain atau kepada teman-tamanya. Akhirnya klien akan merasa kehilangan funngsi sosialnya. Perawat berperan dalam pembuatan asuhan keperawatan dalam membantu klien akibat kondisi sakit yang dialaminya tersebut.  

5.      Dampak pada dinamika keluarga
Dinamika keluarga merupakan proses dimana keluarga melakukan fungsi, mengambil keputusan, member dukungan kepada anggota keluarganya dan melakukan koping terhadap perrubahan dan tantangan hidup sehari-hari.
Contoh, akan mengalami rasa kehilangan jika salah satu orangtua harus dirawat dirumah sakit atau jika orangtuanya tidak bisa memberikan kasih sayang dan rasa aman kepadanya, kesulitan emosi mungkin tetep berlangsung meskipun peran orangtua telah digantikan oleh annggota keluarga yang lain. Penggantian situasi tersebut dapat menimbulkan stres dan dapat menyebabkan tanggung jawab yang  bertentangan bagi anaknya atau menyebabkan konflik pada saat pengambilan keputusan.





0 Response to "MEMAHAMI KONTINUM SEHAT SAKIT MENJELASKAN PENINGKATAN KESEHATAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT"

Poskan Komentar

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?