syarat-syarat orang dwijati (Sulinggih)

Tidak mudah menjadi seorang pendeta Hindu atau Sulinggih atau Pedanda. Orang yg belum menjadi sulinggih disebut dgn istilah walaka, sedangkan yg sudah menjadi sulinggih disebut dwijati. Berbagai macam syarat harus dipernuhi, diantaranya memiliki garis keturunan brahmana. Selama walaka ybs harus mencari seorang sulinggih senior utk dijadikan guru nabe, yaitu guru yg akan mengajarkan tattwa, sesana dan hal2 lain yg berkaitan dengan ke-sulinggih-an selama 1-2 tahun. Disini belum boleh belajar pelajaran paling utama bagi sulinggih yaitu Mantra dan Weda, karena kedua hal ini bersifat suci dan hanya boleh dipelajari setelah di-dwijati (dilantik) jadi sulinggih. Prosesi pelantikan seorang walaka menjadi dwijati atau sulinggih disebut Pedikshan atau Pen-Dwijati-an yg dilakukan oleh guru nabe.
Seorang walaka kalo udah siap menjadi sulinggih sesuai perintah guru nabe-nya akan melakukan ritual tirta yatra atau persembahyangan mohon ijin ke berbagai pura utama di Bali. Selanjutnya mengajukan aplikasi ke departemen agama utk bisa dilakukan diksa-pariksa atau ujian menjadi pendeta sbg syarat formal administratif. Setelah lulus baru siap di-diksa oleh guru nabe. Kebetulan paman saya yg saat walaka bernama Ida Bagus Suamba baru selesai melakukan ritual ini. Istri beliau saat walaka bernama Ida Ayu Putri adalah kakak kandung dari ibu saya. Guru nabe beliau adalah Ida Pedanda Griya Tegal Ubud. Proses dwijati memiliki pengertian lahir kembali (re-birth) dalam raga yg baru, maksudnya sulinggih meninggalkan kehidupan walaka yg serba duniawi dan menuju dunia spiritual pelayanan Tuhan yg lepas sama sekali dari ikatan duniawi. Re-birth dilakukan dgn proses mati raga (mati suri). Saat malam jam 00.00 paman dan tante saya menjalani proses mati suri ini dgn ber-meditasi. Saat matahari terbit, beliau dimandikan dengan menggunakan sesajen (banten) spt layaknya orang meninggal. Selesai itu baru mulai proses pelantikan oleh guru nabe ditandai dgn me-pujung, yaitu mengikat rambut sulinggih baru keatas dan diberikan daun dan bunga yg telah di-blessing. Pujung adalah simbol Siwa dan sulinggih adalah perpanjangan tangan Siwa di dunia. Ini adalah ciri khas seorang pendeta secara fisik. Selesailah sudah prosesi dwijati dilakukan, dan sang walaka berganti nama setelah di-dwijati. Paman saya dari Ida Bagus Suamba menjadi Ida Pedanda Gde Lanang Manuaba dan tante saya Ida Ayu Putri berganti nama menjadi Ida Pedanda Istri Sidemen. Oh yah di Hindu, suami menjadi sulinggih sang istri otomatis menjadi sulinggih juga. Kalo sudah di dwijati, panggilan utk sang sulinggih adalah “Ratu Pedanda”. Anak-anak kandungnya jg tidak akan memanggil lagi Bapak/Ibu melainkan Ratu Pedanda, begitu juga saudara-saudara sulinggih lain. Satu hal yg penting sbg sikap sulinggih adalah tidak boleh menatap wajah sang guru nabe jika ketemu, tangan dicakupkan didepan dada dan wajah menunduk. Tidak boleh bertanya dan berbicara kalau tidak diminta oleh guru nabe. Wajib melakukan semua perintah guru nabe tanpa ada pertanyaan dan hal-hal lain.  Cuman satu kata kalo diperintahkan guru nabe, “IYA”.  Karena itu setiap sulinggih juga wajib mencari sulinggih lain utk dijadikan guru waktra atau guru pendamping selama menjadi sulinggih. Dgn guru waktra-lah beliau mulai belajar weda dan mantra karena sudah tdk diperbolehkan lagi bertanya pada guru nabe. Jangankan bertanya, ketemu-pun tdk diperkenankan dgn guru nabe kecuali tidak sengaja ketemu tapi tetap tidak boleh menyapa. Itulah bakti murid kpd guru sbg orang yg dihormati. Sulinggih yg telah di-diksa (dilantik) baru diperkenankan belajar weda dan mantra setelah 35 hari. Berbeda dgn anak sekolahan, belajar dulu baru diwisuda. Kalo sulinggih dilantik dulu baru belajar. Sangat berat menjadi seorang sulinggih, itu sebabnya tidak semua orang Bali yg berkasta brahmana mau menjadi sulinggih.


--Om Swastyastu...

Soal syarat madwijati/madiksa.
Pada beberapa keluarga yang konservatif, apa yang diceritakan Kompas tersebut
benar adanya.  Di sebuah desa (dekat dengan Denpasar), ada seseorang yang mau
mediksa 'dipaksa' atau 'terpaksa' kawin lagi, agar bisa mediksa, sementara
istri pertamanya didiksa dengan "pandita berstatus lebih rendah". 

Di sebuah desa lain (dekat Amlapura), sang suami 'terpaksa' menceraikan
istrinya, kemudian kawin dengan istri baru, sehingga bisa mediksa.

Ada banyak kasus lain lagi.

Tetapi PHDI telah menetapkan syarat-syarat mediksa sejak tahun 1968, yang tidak
membedakan asal-usul kelahiran.  Maka, sejak lama sudah ada padiksan untuk
berbagai warga, seperti warga Pande, warga Pasek, warga Bhujangga Waisnawa,
warga Arya Kanuruhan, Warga Kepakisan, Warga Arya Gajah Para, Warga
Karangbuncing, dst.

Yang paling saya tahu adalah untuk warga Pasek (karena kebetulan sejak 1999
saja dibebankan sebagai Sekjen Warga Pasek/MGPSSR). 
Sebagai bagian dari Umat Hindu di Indonesia, kami sangat mengagungkan PHDI, dan
senantiasa melaksanakan keputusan-keputusan yang telah dihasilkan dalam
Mahasabha maupun pesamuan agung.

Terkait dengan padiksan, bahkan kami di warga Pasek (Maha Gotra Pasek Sanak
Sapta Rsi, MGPSSR) sudah melakukan padiksan untuk berbagai suku (Jawa, Sunda,
Lampung, sasak, dll).

Bahkan tahun 2006 kami melakukan padiksan terhadap sepasang suami istri, di
mana sang istri adalah seorang "bule" asal Amerika, tetapi sudah ber KTP Hindu
dan Warga negara Indonesia.  Istri yang 'bule' tersebut pun menggunakan 'gelar'
yang sama dengan sang suami yang Bali asli, yaitu "Ida pandita Mpu".

Saya pribadi, kalau matur dengan Beliau, lebih sering menggunakan bahasa
Inggris.

Demikian sekilas info,

Ksamaswamam.


IGP Brahmananda

Duta Bintaro, Kluster Sanur E7/5.

--- On Mon, 6/8/09, raimahaj...@gmail.com <raimahaj...@gmail.com> wrote:

From: raimahaj...@gmail.com <raimahaj...@gmail.com>
Subject: Re: [hindu] Cerpen di Kompas Minggu.... Apa bener syarat
Dwijatiseperti itu ?
To: "HD net" <hindu-dharma@itb.ac.id>
Date: Monday, June 8, 2009, 2:01 AM

Sepertinya ini hanya sebuah prilaku di satu tempat, tapi ada baiknya ada
pendekatan kepada penulis krn meskipun ybs berhak membuat cerpen dg
interpretasinya, semestinya ybs jg punya sensitifitas ttg tanggapan orang thd
budaya bali secara global. Dibentuk team? Why not?
------Original Message------
From: IBM Wisadnya
Sender: hindu-dharma-boun...@itb.ac.id
To: HD net
ReplyTo: HD net
Subject: [hindu] Cerpen di Kompas Minggu.... Apa bener syarat Dwijatiseperti
itu ?
Sent: Jun 8, 2009 9:56 AM

Kemarin saya baca cerpen di Kompas... Malam Pertama.....
Intinya tentang seoarang Brahmana yang 'merasa' punya kewajiban untuk
meneruskan tugas untuk adanya Peranda di rumahnya... tapi istrinya bukan
dari kasta brahmana. Agar hal ini tidak menjadi hambatan, istrinya
mencarikan 'istri baru' dari kasta brahmana untuk suaminya.

Saya koq ya nggak tahu ada syarat2 seperti itu ya ?
Aji saya yang sekarang jadi Peranda juga nggak pernah men share syarat
seperti itu.
Kita bersaudara laki2 berlima, istri2nya warna warni, desak, tionghoa,
gusti, cok , dayu.


Mohon temen2 yang mengerti mengenai 'syarat2' orang berdwijadi bisa
share... agar sekalian bisa mendapat reference lain, apakah reference
dari cerpen itu benar adanya ?

Salam,
bagus

2 Responses to "syarat-syarat orang dwijati (Sulinggih)"

  1. Remarkable! Its really awesome article, I have got much clear idea regarding from this post.
    My webpage > Frasi Celebri

    BalasHapus

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?