PATOLOGI ATAU PENYAKIT BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA ( BPH )

frenssss, ketemu lagi sama saya KETUT BAYU PARWATA,,, saya akan selalu berusaha menyajikan informasi-informasi yang menarik, dan pastinya bermanfaat bagi kalian, dan u gx usah kwatir atau gx pecaya ma mterinya.... sebab saya membuat postingan hanya dari buku-buku sumber yang sudah paten dan baku atau yang dapat dipercaya kesahan.nya...... jadi gx mungkin sampe nyamplirrrr.......


BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA ( BPH )



Rate This

 Photobucket

A. DEFINISI
BPH adalah pembesaran prostat yang mengenai uretra dan menyebabkan gejala urtikaria ( Nursalam, 2006 )
BPH adalah pembesaran jinak kelenjar prostat disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF ilmu bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 )
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn, Ed, 2000 )
B. ETIOLOGI
Penyebab khusus dari penyakit ini belum diketahui secara pasti ,beberapa hipotesis menyatakan bahwa gangguan ini ada kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron ( DHT ) dan proses penuaan
Hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah :
1. adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan ekstrogen pada usia lanjut
2. peran faktor pertumbuhan sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat
3. meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena kekurangan sel yang mati
4. teori sel stem menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan
C. PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan tekanan intravesikel. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan ini. Kontraksi secara terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa hipertropi otot destrussor ,trabekulasi, terbentuknya selulosa ,sakula dan divertikuli buli. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary track symptom ( LUTS ) yang dulu dikenal dengan gejala prostatismus.tekan intravesikel yang tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter ini akan menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter. Jika keadaan ini berlangsung terus dapat mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal
D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis yang ditimbulkan oleh BPH disebut sebagai syndroma prostatisme.sindrom prostatisme ini dibagi menjadi dua :
1. gejala obstruktif
a. hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destruksor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikel guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika
b. intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang disebabkan oleh karena ketidakmampuan otot destrussor dalam mempertahankan tekanan intravesikel sampai berakhirnya miksi
c. terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing
d. pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di uretra
e. rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas
2. gejala iritasi
a. urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan
b. frequeny yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari ( nocturia ) dan pada siang hari
c. disuria yaitu nyeri pada waktu kencing
E. EPIDEMIOLOGI
Pada usia lanjut , beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Keadaan ini dialami oleh 50 % pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80 % pria yang berusia 80 tahun. Pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya aliran urine sehingga menimbulkan gangguan miksi
F. KOMPLIKASI
1. retensi urine akut dan involusi kontraksi kandung kemih
2. refluks kandung kemih, hidroureter dan hidronefrosis
3. gross hematuria dan urinary tract infection ( UTI )
G. DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain :
1. anamnesa
2. pemeriksaan fisik Dilakukan dengan pemeriksaan TD , nadi, dan suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urine akut , dehidrasi sampai syol pada retensi urine serta urosepsis samapi syok septik
3. pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui adanya hidronefrosis dan pyelonefrosis . pada daerah supra symfisier pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin
4.penis dan uretra diperiksa untuk mendeteksi adanya kemungkinan stenose meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis
5. pemeriksaan scrotum untuk menentukan adanya epididimitis
6. rectal touche / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi sistem persyarafan unit vesica urinaria dan besarnya prostat
7. pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah lengkap faal ginjal, serum elektrolit dan kadar gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum klien
8. pemeriksaan urine lengkap dan kultur
9. PSA ( Prostatic Spesific Antigen ) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan
10. pemeriksaan uroflow meter
11. pemeriksaan imaging dan rontgenologik
a.BOF ( buih overzich ) untuk melihat adanya batu dan metastase pada tulang
b. USG ( Ultra SonoGrafi ) digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat juga keadaan buli-buli termasuk residual urin
c. IVP ( Pyelografi Intra Vena ) digunakan untuk melihat fungsi ekskresi ginjal dan adanya hidronefrosis
d. pemeriksaan panendoskop untuk mengetahui keadaan urethra dan buli-buli
H. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. penatalaksanaan terapi :
  • Penghalang α-adrenergik seperti doksasosin ( caradura ), prazozin ( minipress ), terazozin ( hytrin ), serta relaksasi otot kandung kemih dan prostat
  • Finasteride ( proscara ) efek antiandrogen pada sel prostat dan mencegah hyperplasia
2. dilatasi balon pada uretra prostat dalam waktu yang singkat dapat menghilangkan gejala
3. bedah TURP, TIUP, atau open prostatectomy untuk prostat yang terlalu besar biasanya melalui supra pubik
4. bedah laser
5. mycrowave hipertermia treatment
I. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
a. pengkajian
1. kaji riwayat adanya gejala meliputi serangan ,frekuensi urinaria setiap hari, berkemih pada malam hari, sering berkemih, perasaan tidak dapat mengosongkan vesica urinaria dan menurunnya pancaran urine
2. gunakan indeks gejala untuk menentukan gejala berat, dan dampak terhadap gaya hidup pasien
3. lakukan pemeriksaan rectal ( palpasi ukuran , bentuk dan konsistensi ) dan pemeriksaan abdomen untuk mendeteksi distensi kandung kemih serta derajat pembesaran prostat
4. lakukan pengukuran erodinamik yang sederhana , uroflowmetri dan pengukuran  residual prostat, jika di indikasikan
b. diagnosa keperawatan
1. gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi uretra ditandai dengan :
DS : melaporkan berkemih tidak lancar serta urine menetes dan sering
DO : inkontinensia, berkemih mendadak, nokturia dan retensi urine
2.Risiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan, imobilitas dan pemasangan kateter urine ditandai dengan :
DS : status pembedahan
DO : imobilitas, terpasang kateter dan terdapat luka operasi
3. nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan ditandai dengan :
DS : laporan adanya nyeri pada luka operasi
DO : adanya luka operasi serta ekspresi wajah meringis dan menahan sakit
4. cemas berhubungan dengan inkontinensia urine, disfungsi seksual, ditandai dengan :
DS : pasien banyak bertanya mengenai kondisi kesehatannya
DO : inkontinensia urine dan gangguan ereksi
c. rencana keperawatan
Diagnosa I
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 5-7 hari pasien tidak mengalami retensi urine dengan kriteria pasien dapat buang air kecil teratur dan bebas dari distensi kandung kemih
Intervensi :
1. atur kepatenan lokasi kateter uretra sesudah pembedahan dengan cara :
  • Lakukan irigasi manual 50 ml cairan irigasi dengan menggunakan tehnik aseptik
Rasional : untuk mencegah sumbatan pada selang kateter
  • Cegah overdistensi kandung kemih
Rasional : overdistensi kandung kemih dapat menyebabkan perdarahan
  • Berikan antikolinergik sesuai anjuran
Rasional : antikolinergik berfungsi untuk mengurangi spasme kandung kemih
2. obsevasi adanya tanda-tanda shock / hemoragi ( hematuria ,dingin ,kulit lembab ,takikardia, dispnea )
Rasional : untuk memberikan penanganan dini bila tanda-tanda shock muncul
3. monitor urine setiap jam ( hari pertama operasi dan setiap 2 jam mulai hari kedua post operasi )
Rasional : memantau kepatenan hidrasi kateter
4. berikan cairan infus sesuai anjuran dan berikan cairan oral jika dapat ditoleransi
Rasional : untuk hidrasi dan pengeluaran urine
Diagnosa II
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksi dengan kriteria :
-          TTV dalam batas normal
-          Tidak ada bengkak, erytema dan nyeri
-          Luka insisi semakin sembuh dengan baik
Intervensi :
1. atur bedrest dengan monitoring TTV
Rasional : peningkatan TTV khususnya suhu mengindikasikan tanda-tanda infeksi
2. observasi warna urine ( gelap ) bau dan evaluasi adanya infeksi
Rasional : urine yang gelap mengindikasikan adanya infeksi pada saluran kemih
3. lakukan perawatan luka insisi secara aseptik juga kulit sekitar kateter dan drainase
Rasional : perawatan luka secara teratur dengan teh nik aseptik dapat mencegah terjadinya proses infeksi
4. berikan antibiotik sesuai dengan anjuran
Rasional : antibiotik bersifat melemahkan bakteri penyebab infeksi
Diagnosa III
Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat dengan kriteria :
  • Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang
  • Pasien dapat beristirahat dengan tenang
Intervensi :
1. monitor dan catat adanya rasa nyeri , lokasi durasi dan faktor pencetus serta penghilang rasa nyeri
Rasional : untuk mengetahui derajat nyeri yang dirasakan klien sehingga dapat memilih tindakan / penanganan yang sesuai
2. obsevasi tanda-tanda non-verbal nyeri ( gelisah, kening mengkerut, peningkatan TD dan denyut nadi )
Rasional : klien terkadang menyembunyikan ketidaknyamanan yang dirasakan sedang tanda-tanda non-verbal dapat mencerminkan ketidaknyamanan yang dialami klien
3. atur posisi pasien senyaman mungkin ,ajarkan tehnik relaksasi dan minta melaporkan jika nyeri meningkat
Rasional : posisi yang nyaman dan tehnik relaksasi dapat mengurangi nyeri
4. anjurkan pasien untuk menghindari stimulan ( kopi, teh, merokok ,abdomen tegang )
Rasional : kopi dan teh dapat menstimulasi nyeri
5. beri kompres hangat pada abdomen terutama pada perut bagian bawah
Rasional : kompres hangat dapat membantu meminimalisir nyeri
6. kolaborasi : pemberian analgetik
Rasional : analgetik berkhasiat memblok stimulasi nyeri ke SSP
Diagnosa IV
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi rasa cemas klien berkurang/ hilang dengan kriteria :TTV dalam batas normal
Intervensi :
1. jelaskan keadaan yang sebenarnya tentang ketidaknyamanan pasca bedah
Rasional : dengan mengetahui ketidaknyamanan pascabedahklien akan lebih tenang
2. beritahu pasien bahwa inkontinensia urine ,frekuensi berkemih dan disuria dapat terjadi sesudah kateter dilepas
Rasional : kecemasan bisa muncul karena klien tidak tahu hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya
3. beritahukan resiko penting pasca pembedahan
Rasional : dengan mengetahui resiko yang bisa terjadi pasca pembedahan , rasa cemas klien akan berkurang
4. bantu pasien untuk mengungkapkan kecemasan dan ketakutan yang dialaminya
Rasional : membantu mengidentifikasi rasa cemas yang dialami klien
e. evaluasi
  1. Drainase berwarna kuning jernih melalui kateter
  2. Insisi tanpa drainase ,tidak demam
  3. Menunjukkan penyembuhan nyeri yang baik
  4. Menunjukkan harapan yang nyata untuk berkemih dan fungsi seksual

0 Response to "PATOLOGI ATAU PENYAKIT BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA ( BPH )"

Poskan Komentar

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?