Patologi Thipoid abdominalis





7. PENYAKIT TYPHOID ABDOMINALIS

a. Difinisi.
Typoid Abdominalis ( demam typoid, enteric fever ) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran.

b. Penyebab.
Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhii basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar, tidak berspora, mempunyai sekurang – kurangnya 3 macam antigen yaitu antigen O (Somatik, terdiri zat kompleks lipopolisakarida) Antigen H (flagella) dan Antigen Vi (tidak tahan panas yang mengalami reaksi aglusinasi antigen dan antibody O), Sedangkan demam paratipoid typoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteritidis, yaitu S. enteriditis bio serotipe paratypi A. Salmonella enteriditis bio serotipe paratypi B, Salmonella enteritidis bio serotipe paratifi C. Kuman – kuman ini lebih dikenal dengan nama S. paratypi A,B dan C.
Penularan penyakit terjadi secara fekal-oral,melalui makanan dan minuman yang tercemar oleh kuman salmonella.

c. Patogenisis.
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap diusus halus. melalui pembuluh limfe halus masuk kedalam peredaran darah sampai diorgan-organ terutama di hati dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan akan berkembangbiak di hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada saat perabaan. Kemudian basil akan masuk kedalam aliran darah menyebar keseluruh tubuh terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa diatas plak payeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala-gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

d. Gambaran klinik.
~ Masa inkubasi dari penyakit typhoid abdominalis adalah rata-rata 2 minggu.
~ Gambaran klinis bervariasi dari sangat ringan sampai berat, dengan komplikasi yang sangat berbahaya. Gejala – gejala mulai timbul secara bertahap dalam waktu 8-14 hari setelah infeksi. Gejala yang timbul tiba-tiba atau berangsur-angsur, penderita cepat lelah, malaise, sepalgia, dan nyeri seluruh badan.
~ Vital sign:
Suhu. Pada kasus –kasus yang khas demam berlangsung selama 3 minggu.Demam umumnya berangsur-angsur naik selama satu minggu pertama. Demam berupa demam remitten ( demam sore atau malam hari lebih tinggi dari pagi hari ). Dalam minggu ke dua penderita mengalami demam secara terus menerus tinggi ( fibris kontinua ), Dalam minggua ke tiga demam kemudian turun secara lisis.dan diakhir minggu ketiga suhu tubuh sudah normal kemali.
Demam seringkali disertai dengan denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa.
Nadi. Bradikardi relative. Yaitu penambahan denyut nadi tak sesuai dengan penambahan suhu. Umumnya 10C diikuti penambahan denyut nadi sebanyak 10-15 kali /menit.
Pada penderita demam dengan suhu 40oC nadi umumnya 120-130 kali /menit.sedangkan pada penderita typhoid mungkin hanya 100 kali/menit.
~ Gangguan gastrointestinal:
Sakit tenggorokan, bibir kering dan pecah-pecah( ragaden), lidah kotor tertutup oleh selaput putih ( coated Tonge) ujung dan tepinya kemerahan, pada awalnya diare kemudian obstipasi, rasa tak enak diperut, nafsu makan menurun, perut kembung (meteorismus) dan mungkin nyeri tekan. Limpa membesar lunak dan nyeri pada penekanan,
~ Kesadaran.
Penderita menurun dari ringan sampai berat, umumnya kesadaran menurun walapun tidak beberapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi coma.
~ Integumen.
Pada akhir minggu 1 terutama pada paratifoid A, timbul roseola/bercak merah diseluruh tubuh atau hanya dibeberapa area saja misalnya pada mamae dan kista iliaka.

e. Pemeriksaan Penunjang diagnostic
Untuk menegakkan diagnosis Typhoid, selain dengan melakukan pemeriksaan gejala –gejala klinis juga dilakukan pemeriksaan lab seperti:
(1) Darah Lengkap atau Urin.
• Jumlah leukosit normal / Leukopenia / Leukositisis.
• Anemia ringan,
(2) Widal.
Dasar test widal adalah suatu reaksi aglutinasi yang terjadi antara serum penderita dicampur dengan suspensi antigen salmonella typhosa.Titer untuk antigen H tidak diperlukan dalam diagnosis Karena tetap saja tinggi setelah mendapat imunisasi atau penderita pernah terjangkit dan telah lama sembuh. Tidak selalu pemeriksaan widal positif walapun penderita sungguh-sungguh menderita typhus abdominalis.
Sebaliknya titer dapat positif karena keadaan sebagai berikut:
1) Titer O dan H tinggi karena terdapatnya agglutinin normal,Karena infeksi basil E.Coli pathogen dalam usus.
2) Pada neonates, zat tersebut didapat dari Ibunya melalu tali pusat.
3) Terdapat infeksi riketsia.
4) Akibat imunisasi secara alamiah karena masuknya basil per oral

Titer agglutinin O lebih dulu naik daripada titer agglutinin H. Titer agglutinin Vi hanya meninggi dalam waktu singkat. Pemeriksaan Widal dikatakan positif bila titer agglutinin O bernilai 1/200. Test widal Titer O dan H meningkat sejak minggu kedua dan tetap posisitf selama beberapa bulan atau tahun.
(3) Kultur .
• Kultur darah. Dalam minggu pertama biakan darah Salmonella typhi positif 75 – 85 %\
• Kultur urin dan faeses. Akan positif pada minggu II sampai III.

f. Komplikasi.
Pada usus dapat menimbulkan perdarahan, perforasi,dan peritonitis. Diluar usus dapat pula menimbulkan meningitis typhosa,Osteomielitis, kolesistitis,dan Bronko pneumonia.

g. Penatalaksanaan.
1) Perawatan.
• Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian dan ekskreta.
• Istirahat total ( bed rest ) untuk mencegah komplikasi-komplikasi fatal.sampai dengan 2 minggu normal kembali.
• Kemudian mobilisasi dengan:
Duduk ( waktu makan) : pada hari 2 bebas panas,
Berdiri : pada hari ke 7 bebas panas.
Berjalan ; pada hari ke 10 bebas panas.

2) Diet.
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas. Boleh diberikan susu, dan bila ada gangguan kesadaran makanan harus diberikan melalui sonde lambung.
Penderita diberikan bubur saring setelah bebas panas bisa diberikan bubur biasa selama 2 hari, nasi tim 2 hari dan nasi biasa.

3) Obat.
Drug of choise adalah Kloramfenicol. Bila penderita tidak serasi bisa diberikan ampisilina atau cotrimoksazol tablet.
Kloramfenocol diberikan dengan dosis 100 mg/kgbb / hari.dibagi dalam 4 dosis. Kemudian diberikan obat-obat lain seperti:
Parasetamol 3 x 500 mg, untuk menurunkan panas, Roborantia ( B complex )

4) Pencegahan.
- Pencegahan terhadap kasus carier dan kasus relaps dengan memperhatikan penatalaksanaan dengan baik.
- Perbaikan sanitasi lingkungan.
- Perbaikan hygiene makanan dan hygiene perorangan.
- Imunisasi: vaksin tifus peroral memberikan perlindungan 70 %.

h. Prognosis.
Prognosisnya jelek pada kasus dengan :
- Malnutrisi.
- Kesadaran baik dan pans tinggi.
- Adanya komplikasi yang berat seperti; dehidrasi dan asidosis, peritonitis, pada anak- anak terjadi Bronko pneumonia.

0 Response to "Patologi Thipoid abdominalis"

Posting Komentar

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?