Patologi Apendikcitis

postingan kali ini akan membahasa mengenai penyakit_penyait yang umum ada d msyarakat ,,,,,,,
nah brwo karang gue akan bahasa mengenai pnyakit appendikcitis, atau sring disebut usus buntu, silakan bca dibawah nie...



1.      Penyakit Apendikcitis.

    a.      Definisi.
    Appendikcitis Peradangan dari apendiks vermiformis.

    b.      Etiologi.
Penyebab utamanya adalah obstruksi yang dapat disebabkan oleh:
1)      Hyperplasia dari folikel limfoid yang merupakan penyebab terbanyak.
2)      Adanya fekolit dalam lumen appendiks.
3)      Adanya korpus alienum seperti cacing.
4)      Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya.
5)      Keganasan dll.

c.       Fatofisiologi.
Obstruksi appendiksitis itu menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa terbendung. Makin lama mucus yang diproduksi makin banyak dan menekan dinding appendiks, sehingga mengganggu aliran linfe  dan menyebabkan dinding appendiks odema serta meragsang tunika serosa dan peritoneum visceral. Oleh karena persarafan appendiks sama dengan usus, yaitu torakal X, maka rangsangan sakit itu dapat dirasakan sampai ke umbilikus.
Mukkus yang terkumpul itu terinfeksi oleh bakteri lalu menjadi nanah, kemudian  timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu. Peradangan yang timbul  akhirnya meluas  dan mengenai peritoneum parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit di kanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendiksitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul nekrosis padaa jaaringan appendiks dan ini disebut appendiksitis ganggrenosa. Bila dinding appendiks itu pecah maka hal ini dinamakan appendiksitis perforasi. Bila omentum dan usus yang berdekatan dapat mengelilingi appendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu massa local, keadaan ini disebut appendiksitis infiltrate. Atau bila massa itu nanah maka disebut appendiksitis  abses. Pada anak – anak dan lanjut usia lebih cepat terjadi perforasi karena pada anak-anak omentu masih pendek dan tipis, appendiks relatif lebih panjang dan dayaa tahaan tubuh yang kurang. Sedangkan pada lanjut usia karena telah ada gangguan pembuluh darah. Bila  appendiksitis  infiltrate menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari, maka menjadi appendiksitis  kronis.


d.      Manifestasi klinis.
-          Anoreksia, mual muntah,
-          Nyeri perut yang hilang timbul  seperti kolik dan terasa disekitar umbilikus, bila proses peradangan sudah menjalar ke peritoneum parietal setempat maka akan timbul nyeri local pada perut kanan bawah didaerah Mc. Burney. Nyeri perut  berubah menjadi tajam dan terus menerus. Setiap gerakan yang menyebabkan daerah itu ikut bergerak atau teregang akan menimbulkan nyeri.
-          Mula –mula demam yang tidak terlalu tinggi kemudian menjadi hiperpireksia bila terjadi perforasi. Bila appendiksitis menjadi kronis maka gejala –gejala menjadi tidak jelas dan tidak terdapat demam.
-          Sering terjadi sembelit tetapi pada anak-anak dan penderita appendiksitisnya dekat dengan  rectum maka sering mengalami diare.

e.       Penentuan diagnosis.
1)      Pemeriksaan fisik.
-          Suhu tubuh mencapai 37,50 C sampai dengan 38,50C.
-          Sikap dan posisi penderita yang mencurigakan seperti: Kalau berbaring biasanya kaki kanan ditekuk sedikit untuk mengurangi peregangan pada appendiks dan menggerakan badannya dengan hati-hati karena takut sakit.
-          Pada pemeriksaan perut timbul nyeri tekan, nyeri lepas atau nyeri ketok terutama di daerah iliaka kanan.
-          Defendce musculair setempat, nyeri kontra lateral.
-          Test psoas kanan positif (rasa sakit bila tungkai atas kanan diekstensikan).
2)      Pemeriksaan penunjang.
-          Darah lengkap:lekositosis  ringan, pada perforasi terjadi lekositosis tinggi.
-          LED: meningkat.
-          Urin :adanya leukosit pada urin menunjukkan peradangan menyebar ke blader atau ureter. Atau untuk membedakan appendiksitis dengan kelainan ginjal.
-          Foto polos abdomen: Hal ini tidak menunjukkan tanda pasti  appendiksitis namun penting untuk membedakan appendiksitis dengan  obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. Pada perforasi ditunjukkan dengan adanya udara bebas dibawah diagfragma.

f.       Prognosa.
Bila appendiksitis dengan perforasi  maka prognosenya jelek.


g.      Penatalaksanaan.
1)      Tindakan pre operatif:
-          Penderita dirawat,
-          Berikan antibiotic,
-          Kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh penderita.
-          Berikan infuse NaCl 0,9% dan Glukosa 5%.
-          Penenang.
-          Premedikasi 30 menit sebelum operasi.
2)      Tindakan operatif: Appendektomi.
3)      Tindakan post operatif:
-          Observasi vitakl sign.
-          Posisi fowler.
-          Penderita puasa sampai bisisng usus normal kembali.
-          Kemudian berikan minum mulai dengan 15 ml/jam selama 4-5 jam, lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makanan saring, hari berikutnya diberikan makanan lunak.
-          Satu hari paska bedah penderita di mobilisasi dengan duduk tegak ditempat tidur selama 2x30 menit. Hari kedua  paska bedah dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ke tujuh jaritan luka operasi dapat diangkat dan boleh pulang.

h.      Komplikasi.
-          Perforasi
-          peritonitis.








1 Response to "Patologi Apendikcitis"

  1. I have been browsing on-line more than 3 hours lately, but I never discovered any fascinating article like yours.
    It is lovely price enough for me. In my view, if all web owners and bloggers made excellent content as you did, the internet might be a lot more useful than ever before.


    Feel free to visit my web page - web stores review

    BalasHapus

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?