Ini kisah nyata dalam hidupku….
Kenangan terpahit dlm k’hidupanku
Aku ingin berbagi cerita ku ini, dan kamu bisa merasakan kesedihanku….
Silakan dibaca
Cabk....jpg 
ha-hi......jpg





Tetes demi tetes cucuran air mata
EDIT.....jpg
---
 





                                            Karya : Bayu Parwata



A

ku masih tergoler diatas ranjang. Perlahan kubuka mataku. Dan kulihat kejendela kamar yg    Berukuran kurang lebih 30x50cm. Kulihat biasan cahaya matahari sudah begitu terang,   Menandakan hari sudah mulai pagi. Aku mencoba bangun. Perlahan-lahan kubuka mataku. Kemudian ku berjalan dan bergegas menuju beranda muka.
      Aku duduk manis di kursi beranda muka. Sambil melihat burung-burung yang berkicau dg merdunya diatas pohon manggaku, suaranya begitu merdu. Bentuknya pun juga begitu indah. Mereka saling bersahutan bersuara, terdengar begitu merdu. Dan mataku kemudian menyorot ke dalam ruang tamu .  Kumelihat sesosok wanita yang sedang duduk dikursi yg sudah agak tua. Ia merenung. Ternyata itu ibu. Ku berfikir dalam hati mengapa ibu tak bekerja. Setelah mengingat-ingat kemudian aku teringat sendiri, bahwa ibu akan membantu persiapan paman yg akan menikah. Kami disini masih memegang teguh kepercayaan, dan kami masih melakukan upacara-upacara yg menurut kami perlu untuk dilakukan . Baik dalam keluarga atau masyarakat.
      Tanpa bertanya lagi akupun bergegas menuju kamar mandi, dg gaya rambutku yang urak-urakan, wajar aku baru bangun. Setelah beberapa menit akupun keluar dari kamar mandi. Aku memakai baju Kemeja yg memiliki strip kotak-kotak dengan rapi. Ku lihat kembali kekursi itu, ibu masih duduk disitu.  Kemudian aku mencoba mendekatinya, dan duduk di sampingnya. Kutatap wajahnya. Kemudian kubertanya.
“ bu jam berapa kita akan pergi kerumah paman, untuk membantu persiapan menikahnya?”
“ oh ya.. Kita nanti akan berangkat jam 09.00.” Jawab ibu dg senyuman sumbang.
Aku melihat itu tidak seperti biasanya, biasanya ia selalu bersemangat, tetapi sekarang ia sangat berbeda. Aku bingung apa yg membuat ibu seperti ini. Ada sesuatu yg ia pendam . Dan ia tak mau untuk bercerita kepada siapapun. Mungkin ibu punya masalah, tapi aku tak tau masalahnya. Aku tak bertanya lagi..
      Ku berjalan menuju jam dinding. Mataku kemudian menyorot ke jam dinding yang berada tepat didinding ruang tamu. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Dg sedikit berlarian aku menuju ketempat ibu sedang duduk.
“ bu, ini sudah jam 09.00. Kita pergi sekarang yuk ? “ ajak ku
“ oh ya nak . Kita pergi sekarang. Tapi ibu pergi mengunci pintu dulu ya”
 Ibu bergegas menuju pintu. Dan ia menguncinya  setelah pintu terkunci semua kami pun segera berangkat.
       Dengan perasaan yang gembira aku berjalan menuju rumah paman. Pohon-pohon yg rindang dan hijau sangat menyejukkan mata perjalanan kami. Wajar saja rumah kami jauh dari keramaian kota, tempatnya cukup terpencil. Tapi sambil berjalan aku masih ingat dengan kelakuan ibu yg seperti biasanya, ku masih memutar-mutar otakku sebanarnya apa yg dipikirkan ibu, mungkin aku bisa membantunya, pikirku dalam hati sambil terus berjalan. Tak terasa kami sudah sampai dirumah  paman .
      Paman langsung menyapa kami, dan mempersilakan kmi duduk. Kami pun duduk di kursi kayu.
      “ bagaimana  keaadan kalian sekeluarga ? “ tanya pamanku
“oh ya, kami sekeluarga baik-baik saja kok” jawab ibu dg tenang.
“ bagaimana keadaan putu didenpasar. Apakah sudah baikan. Katanya ia sakit sehingga ia tak bisa pulang kesini ? “ tanya ibu yg menanyakan keadaan adik perempuannya yang menikah di Karang Asem , dan kini ia tinggal di Denpasar .
“ oh ya, katanya ia sudah agak baikan “ jawab paman.
“Oh begitu, baguslah…..” jawab Ibu dg persaan gembira.
“Bli Made dimana ia ???... Mengapa tak kesini ???..”Tanya pamanku menanyakan ayahku.
“Ia sekarang sedang bekerja, mungkin sekitar jam 11.00 ia akan pulang. Maklum ia tak dapat libur. Jadi ia sekarang tak bisa membantu…!” Jawab ibu, yang menjelaskan.
      Pekerjaan pun dimulai. Mereka sibuk mempersiapkan pernikahan paman. Aku hanya duduk  dan termenung. Ku berpikir dalam hati, baru sampai disini ibu langsung menanyakan adiknya.
“ oh ternyata karena itu ibu merenung. Ia terpikirkan dg keadaan bibi di denpasar. Ibu sangat khwatir dg keadaan bibi. “ pikirku dalam hati.
      Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Ayahpun datang dan langsung membantu pekerjaan, mempersiapkan pernikahan paman.
      Waktu bergulir. Tak terasa jam sudah menunjukakan pukul 12 siang. Pekerjaan pun sudah selesai . Kami sekeluarga bersiap untuk pulang. Setelah kami berpamitan dg paman kami pun pulang.
      Sampai dirumah kulihat ibu masih merenung. Aku mencoba mendekatinya. Kutatap matanya. Kemudian ku berkata
“ bu.. Kenapa ibu merenung. Ibu memikirkan keadaan bibi ya ? “ Tanyaku dg suara yang lembut.
“ iya nak, ibu kepikiran terus dg bibimu. Apakah ia tidak apa-apa “ Jawab ibu, dengan suara sumbang.
“ sudahlah bu , tadi kata paman kan bibi sudah baikan kataku mencoba membuat ibu agar tak termenung lagi.
“ iya nak “ ucap ibu dg pasrah.
      Malam pun tiba. Aku tidur dikamarku .  Dengan mata berkunang-kunang dan masih mengantuk ku mendengar suara ibu dan ayah yang bercakap dg seseorang, melalui telepon. Aku yang masih rebah diranjang mencoba bangun. Perlahan- lahan kubuka mataku . Kemudian ku berjalan keluar kamar dg sempoyongan karena aku masih mengantuk
      Sampailah aku di ruang tamu. Tanpa bertanya aku langsung duduk disamping ayah dan ibu .dengan mata yang berkunang- kunang, ku melihat ke jam dinding jam sudah menunjukan pukul 3 pagi.  Kumendengarkan percakapan ayah dg seseorang lewat telepon. Dan kuketahui seseorang itu adalah suara suaminya bibi di denpasar.  Dan ku ketahui bibi masuk rumah sakit. Benarlah kekhwatiran ibu selama ini. Namun aku masih bingung . Kata paman kemarin, bibi sudah baikan. Tapi nyatanya bibi tambah parah. Telepon pun diputus suami bibi, ia berjanji akan memberi kami kabar lagi nanti. Karena ia masih mengurus bibi dirumah sakit.
      Ku melihat wajah ibu sangat khwatir. Ia harap-harap cemas. Ibu tak henti-henti matanya menyorot ke telepon yang berada diatas meja kecil. Ia sangat menanti informasi dari suami bibi.  Setelah cukup lama telepon itu kembali berdering. Ibu dg cepat mengangkat gagang telepon.
“ iya, halo bagaimana keadaannya sekarang “ tanya ibu sangat khwatir.
“ keadaannya semakin parah. Ia sekarang masuk diruang icu “ jawab suami bibi dg merintih. 
Ketika ibu mendengar itu. Ia kemudian berkata
“ ayo kita memberi tahu pamanmu “  ajak ibu dg sedikit berteriak.
“ ayo ibu . Kita pergi sekarang “
     Dimalam yang sepi itu. Kami berjalan dg sedikit lari menuju rumah paman. Hentakan kaki kami cukup keras. Wajar dimalam yg sesunyi itu suara sekecil apapun mejadi terdengar. Jarak pandang kami sangat pendek. Karena malam sangat gelap gulita, dan dijalan tidak ada penerangan seperti lampu.. Juga terpaan angin malam yg menusuk kulit, sangat dingin. Sampailah aku di depan pintu gerbang paman. Kemudian. Aku berteriak. “ paman, paman , buka pintu “
Namun tak ada jawaban . Suasana masih sepi. Aku berteriak lagi. Paman pun mendengarnya ia keluar dan membukakan pintu untuk kami. Kami segera masuk rumah paman. Kami pun duduk. Dan ibu menceritakan semuanya. Paman kelihatan sangat terkejut. Raut mukanya sedikit pucat dan bercampur kekehwatiran yg dalam.
       Dg menggunakan hp kami terus menunggu informasi dari suami bibi. Dg perasaan yang penuh dg kegalauan , akhirnya ayahku menelpon suami bibi.
“ halo, bagaimana keadaannya sekarang ? “ tanya ayahku
“ dia sekarang sudah tidak sadar lagi . Ia sangat lemah. Ia hanya bisa terbaring “ jawab suami bibi merintih dg suaranya yang begitu sedih.
Ku tahu Suami bibi merasa sangat sedih bercampur kegalauan….
Ketika mendengar hal itu wajah ibu semakin pucat bercampur dengan keringat kekhawatiran.
      Waktupun bergulir dg cepat. Ibu masih menunggu telepon lagi dari suami bibi. Ketika kami semua hendak merenungi keadaannya bibi, tiba-tiba telepon pun berdering, yang sungguh mengagetkan kami.
 “ ya halo, bagaimana sekarang ia ? “ tanya ayakku dg perasaan yang berdebar
“ ia sekarang su…dah.. Me…ni…galkan a..ku sendiri , ia sudah tiada “ jawab suami bibi dg suara terputus-putus dan sembari menangis.
Ketika mendengar hal itu, kami semua mengalirkan air mata . Dan pecah sudah semua harapan kami selama ini. Ku masih sempat menatap ibu, ia tak tahan lagi semua air matanya dikeluarkan tanpa hentinya. Wajahnya begitu pucat. Bagaimana kami tidak bersedih. Bibiku yang kukenal selama ini yang sangat periang, baik hati, dan tak pernah menyerah sekarang meninggalkan kami semua disini. Dalam waktu yang begitu singkat. Itulah yg menyebabkan kami semua bercucuran air mata, tanpa henti. Ku tatap juga Ayahku yang duduk di kursi pamanku. Ia hanya diam ,ia berusaha menenangkan diri.
      Kemudian ayahku yang duduk dikursi berdiri dan berjalan menuju tempat Ibu duduk . Ia pun bicara dengan suara yang lembut. “ bu sudahlah , relakanlah dia. Mungkin sudah takdirnya. Dan kita tak boleh bila terus-terusan sedih.”
“ Aku tak bias melupakannya begitu saja. Dan aku tak bisa menahan semua air mataku “ jawab ibu dengan suara yang pelan, sambil menangis tersedu-sedu.
       Dengan perasaan yang masih galau aku mencoba melihat jam dinding yang tepat dipasang di diatas dinding tempat aku masih duduk. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ku mengusap-ngusap mata dan kemudian ku berdiri , berjalan menuju tempat duduk ibu.
“ Bu sekarang sudah jam lima pagi , kita harus pulang  . Dan kemudian memberi tahu semua keluarga. “ kataku sambil menatap wajah ibu .  Ibu hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Aku sangat mengerti perasaan Ibu. Dan ku tutup mulutku, aku tak bertanya lagi.
       

0 Response to " "

Poskan Komentar

Catatan:
1. Berkomentarlah dengan bahasa yg jelas dan mudah dimengerti.
2. Untuk menyisipkan gambar gunakan kode [img]Tulis URL gambar di sini[/img]
3. Untuk menyisipkan video gunakan kode [youtube]Tulis URL Video Youtube di sini[/youtube]
4. Untuk melihat kumpulan emoticon klik tombol emoticon dibawah ini.
Emoticon

Google+ Followers

Bagaimanakah web murah hati menurut anda?